Cikudit’s Weblog

Maret 2, 2008

mikey way’s wife

Diarsipkan di bawah: music — cikudit @ 4:21 am

alicia-n-mikey.jpg 

Yep, finally i found her picture! Emm…AKU GA PERCAYA ITU ISTRINYA MIKEY!!! Astaga…aku pikir istrinya itu tipe keibuan atau cewek alim lah, ternyata…GOKIL dah pokoknya!

Si cewek yang fotonya aku pajang ini punya nama asli ALICIA SIMMONS (setahuku). Tapi tentu saja sekarang jadi ALICIA WAY mengingat dia adalah istri dari Michael James Way a.k.a Mikey Way, bassist band My Chemical Romance.

Dari info yang aku dapat, mereka menikah tanggal…ada dua info tentang tanggalnya, yaitu tanggal 17 Maret 2007 dan 17 Mei 2007. Kalau menurutku sih tanggal 17 Mei 2007, karena rasanya belum terlalu lama berita pernikahan mereka beredar. Sayangnya sampai saat ini aku belum menemukan foto pernikahan mereka, tidak dipublikasikan mungkin.

Kalau ingin melihat mereka, buka http://www.youtube.com/watch?v=CXRGm8NRcqU aja. Itu berisi rekaman foto mereka dengan tulisan opening “A Tribute to The Most MCR’s Romantic Couple” atau semacamnya dan di-backsound-i oleh lagu MCR “Disenchanted”. Rasanya backsoundnya kurang pas ya?

Nah ternyata mereka ini punya tatto yang bisa digabungkan jika tangan mereka didekatkan. Tattonya bergambar flaming heart dengan tulisan “FOREVER”.

Jujur, aku benar-benar terkejut melihat mereka, terutama si cewek. Dari foto-foto yang aku temukan, mata si cewek ini berwarna merah, mungkin pakai soft lens atau apa lah. Kalau memang benar-benar merah seperti itu, KEREN SEKALI!!! ^.^”a

Maret 1, 2008

catatan hati

Diarsipkan di bawah: (my) life — cikudit @ 12:52 am

Special for my brother :

 

Sadari hati…

Apa yang tlah kau lakukan

Dan ku korbankan

(Sadari Hati, by Keila or Kayla or something sounds like that)

 

I juzt wanna be appreciated for what i’ve done for u, not an anger. U never wanna understand, juzt angry. Don’t u know that i’m tired too??? And i’m still trying not to make u angry. It’s always hard in my mind…

pengalaman pertama naik transjogja

Diarsipkan di bawah: moments — cikudit @ 12:48 am

22 Februari 2008, pertama kali saya naik TransJogja (dan sampai detik ini, 29 Februari 2008, 9:21 pm, belum ada yang “kedua”). Sebenarnya saya tidak tertarik, tapi berhubung Mama mengajak dengan alih-alih ke Pasar Beringharjo dan tidak tega membiarkan Mama mencoba alternatif alat transportasi baru sendirian, akhirnya saya mau juga.

Berangkat dari halte yang tidak jauh dari rumah saya, halte di dekat toko oleh-oleh Kembang Jaya Maguwoharjo. Setelah bertanya-tanya pada petugas di halte tapi akhirnya tidak hafal jalur juga, akhirnya bus yang kami tunggu datang beberapa menit kemudian. Bus dengan jalur 1A yang saya dan Mama naiki penuh (sesak), mungkin karena masih baru dan masih pada “icip-icip” mumpung biayanya masih Rp 1000,-. Dapatlah kami berdiri di bis itu. Jangankan duduk, pegangan yang disediakan saja sudah penuh.

Bus berputar dulu ke bandara, kemudian ke Pasar Prambanan (padahal kami mau ke Pasar Beringharjo). Setelah berdiri beberapa waktu dan Mama mengeluhkan bau tak sedap yang menyeruak dari ketiak seseorang yang berdiri dan menyerahkan nyawanya pada pegangan juga, akhirnya Mama mendapat tempat duduk. Tempat duduk ini datang dari seorang gadis yang merelakan “posisi nyaman”nya kepada Mama. Dan setelah beberapa lama kemudian lagi, saya mendapat tempat duduk di sebelah Mama.

Ternyata membutuhkan waktu sekitar satu setengah jam sambil menikmati kepadatan penduduk untuk akhirnya sampai ke Pasar Beringharjo. Kejadian di Malioboro seperti saya membeli gulali berbentuk bintang seharga Rp 2000,- berwarna merah muda dan hijau, membeli minuman kombinasi cendol dan camcau seharga Rp 2000,- pula, membeli dua pasang sandal rumah seharga Rp 20.000,-, terpesona pada sepasang sarung tangan hitam dan tas manis (saya tidak percaya bahwa wanita seperti saya bisa menyukai tas itu) tapi tidak berhasil membawa pulang keduanya, dan lain-lain rasanya tidak perlu saya ceritakan (sepertinya sudah).

Pulanglah kami dengan TransJogja lagi. Kali ini jalurnya 3A dan tetap penuh (sesak). Saya berdiri dan Mama mendapat tempat duduk setelah beberapa saat berdiri. Dan lagi-lagi itu atas jasa seseorang (kali ini pemuda) yang merelakan “posisi nyaman”nya untuk Mama.

Di saat-saat genting seperti itu saya masih sempat terpesona oleh seorang cowok yang berdiri (tergencet) di belakang saya. Kulitnya putih, potongan rambutnya rapi, dan sebuah kacamata bertengger di wajahnya. Sepintas saya kira dia adalah anak SMP. Dia turun di Jalan Kusumanegara dan masuk ke sebuah gang yang tidak jauh dari halte Kusumanegara. Baru di saat melihat dia berjalan menjauh itu lah saya menyadari bahwa dia tidak memakai seragam SMP (bahkan “seragam” pun tidak). Habis cerita.

Kemudian saya mendapat tempat duduk setelah sepasang ibu-anak turun di suatu halte. Kemudian segerombol pemuda (saya rasa ada pemudi-nya juga) yang naik di suatu halte. Lagi-lagi saya terpesona pada seorang cowok di tengah kepadatan bus itu. Kali ini tipenya berbeda dengan yang tadi. Cowok ini berambut gimbal panjang, tapi wajahnya bersih, jadi terbersit di pikiran saya bahwa gimbalnya ini adalah karena sengaja, bukan karena jarang keramas (saya akui saya cukup “sok tau” perihal rambut gimbal). Dan saya turun di halte tempat berangkat tadi pagi. Habis cerita.

Saya tidak menghitung waktu kepulangan karena yang ada di pikiran saya hanyalah “TIDUR!” Saya merasa lelah sekali setelah bertengger di bus yang penuh (sesak).

Hal yang mau saya tekankan bukanlah tentang ada-dua-cowok-yang-membuat-saya-terpesona-dalam-pengalaman-pertama-saya-naik-TransJogja, tapi tentang TERNYATA MASIH ADA YA PEMUDA PEMUDI YANG PEDULI PADA ORANG TUA DI JAMAN SEPERTI INI?! Saya salut pada orang-orang yang merelakan “posisi nyaman”nya untuk Mama. Seandainya semua pemuda pemudi memiliki kepedulian seperti itu….

Februari 27, 2008

highlights MCR concert in jakarta

Diarsipkan di bawah: music — cikudit @ 7:23 am

Yap, seperti yang telah saya beritakan di posting-posting sebelumnya, My Chemical Romance a.k.a MCR telah melaksanakan (alah, bahasanya…) konser pertamanya di Indonesia, tepatnya di Jakarta (jelas!) pada tanggal 31 Januari silam (alah lagi, bahasanya…).

Dengan bangga saya nyatakan bahwa saya tidak bisa, mampu, berkesempatan, atau apapun yang intinya SAYA TIDAK MELIHAT KONSERNYA! Yah, begitulah, sebenarnya saya menyatakan ini bukan dengan “bangga”, tapi dengan SANGAT MENYESAL. Saya bahkan tidak melihat berita kedatangan atau interview atau apapun yang menampakkan wujud mereka di Indonesia, tepatnya Jakarta (lagi2, jelas!).

Secercah harapan membuncah di dada saat pada tanggal 22 Februari 2008 sore (lupa jam berapa) saya melihat iklan highlights konser MCR di salah satu televisi swasta. Saya benar-benar terharu dan penuh harap melihat iklan ini. Sebelumnya saya pernah melihat highlights konser Muse tahun lalu yang juga disponsori oleh merk produk rokok yang sama. Dan highlights konser Muse itu cukup sangat mengecewakan karena…karena apa ya? Cuplikan konsernya hanya sedikit dan proses interview juga kurang jelas.

Nah dengan penuh harap saya (memaksa diri) terjaga sampai pukul 23.00 di mana acara tersebut akan ditayangkan di salah satu stasiun televisi swasta (ngomong2, cita2 saya adalah bekerja di stasiun televisi ini, ^.^a). Akhirnya pukul 32 lewaaaaat entah-berapa, acara dimulai. Dengan wajah berseri2 saya menyaksikannya. Hal yang saya tangkap adalah :

  1. Iri melihat para pemenang tiket konser gratis dari salah satu merk produk rokok ternama itu.

  2. Si Pembawa Acara cerewet abiz, sumpe! Sampai2 tidak jelas apa yang dikatakannya, saking cepat dan dengan kombinasi bahasa antah-berantah.

  3. Wawancara dengan Sang Vokalis,Gerard Way berlangsung cukup lama, tapi tidak begitu jelas. Terlihat Gerard agak jengah dengan Si Pembawa Acara yang bertanya tapi tidak pernah berhenti menjelaskan maksud pertanyaannya sehingga Gerard terpaksa memotong kata-katanya begitu saja. Hal yang saya tahu dari wawancara itu adalah : MCR ADALAH BAND ROCK, BUKAN EMO.

  4. Cuplikan konsernya sedikit, tapi masih lebih mending daripada cuplikan konser Muse. MASALAHNYA, yang di-shoot adalah Sang Vokalis, Gerard Way terus dan Sang Gitaris, Ray Toro yang tidak menarik dipandang kecuali rambutnya yang menarik perhatian. Sementara saya sangat2 mengharapkan melihat Mikey Way dan Frank Iero.

  5. Nah, finally, dari cuplikan konser yang hanya sedikit itu, saya bisa melihat sekilas bahwa Sang Drummer, Bob Bryar dan Sang Bassist, Mikey Way BERAMBUT PANJANG! Astaga…saya nyaris tidak mempercayai hal ini! Yah tidak terlalu panjang sih, tapi cukup untuk mengibas2kan rambut (beserta kutu dan ketombe mungkin) ke segala arah. Dan saya perhatikan bahwa MENGIBASKAN RAMBUT ke segala arah itu adalah HOBBY MIKEY WAY selama cuplikan konser. Saya tidak bisa membayangkan wujud jelasnya jika benar mereka berambut panjang, yang jelas sekilas itu terlihat mengerikan.

Begitulah reportase highlights konser MCR yang bisa saya laporkan. Dan kemudian, sekitar pukul 23.50 di mana acara tersebut usai (alah lagi, bahasanya…), saya berangkat tidur dengan perasaan TIDAK PERCAYA mengingat model rambut baru Sang Bassist dan Sang Drummer MCR. Ck ck ck…

Februari 23, 2008

my ex-home

Diarsipkan di bawah: others — cikudit @ 1:19 am

ex-home-front.jpg

yah…emh…yeah…well…what should i say???

jujur yah, aku shock liat bangunan ini n nyaris ga mengenalinya sebagai tempatku bernaung selama sekitar 12tahun!

well…yah, bangunan ini PARAH BANGET kan??? ya Tuhan…rumah ini emg udah jadi milik entah-siapa sejak entah-kapan, tapi bener-bener keterlaluan kalo wujud ex-rumah tercintaku jadi kayak gini! kayak ga ada yang ngrawat (mungkin emang iya)

ooohh aku masih inget banget…alamatnya jalan teknologi VIII no.20 siteba padang…

wah, parah bener nih…kok jadi kayak gini sih bentuknya???

i mizz u, my ex-home!

Februari 14, 2008

3 in 1

Diarsipkan di bawah: news — cikudit @ 9:40 am

Bukan apa-apa, saya hanya ingin membuat beberapa tulisan dengan sekali posting mengingat proses posting tidak secepat kuda sembrani (apaan sih?!)

 

Pertama…

Jogja : Kota Gudeg

Jogja : Kota Pelajar (Mahasiswa, tepatnya)

Jogja : Kota Sepeda (Motor) … TANYA KENAPA???

 

Kedua…

Saya dengar akan ada undang-undang yang yang mengharuskan pengendara sepeda memiliki SIM. Apa benar? SIM D, kalau begitu? Ada-ada saja cara pegawai pemerintah untuk mencari uang (pastinya dibutuhkan biaya untuk membuat SIM sepeda tersebut dan mungkin pula akan terjadi sogok-menyogok). Saya tidak bisa berkomentar banyak, tapi beberapa tahun lagi juga akan ada undang-undang yang mengharuskan pemilik sepeda memiliki STNK SEPEDA mungkin???

 

Ketiga…

Beberapa waktu lalu saya mendengarkan radio dan iseng-iseng mengirim sms ke stasiun radio tersebut. Di akhir acara, saya cukup terkejut karena saya memenangkan hadiah. Hadiahnya adalah FREE INVITATION AT HUGO’S CAFE ON FEB 14th. Wah, wah, yang benar saja! Masa saya datang ke Hugo’s Cafe? Saya yakin suasana di sana tidak akan membuat saya nyaman, apalagi saya bisa saja dipecat dari status sebagai “anak” oleh orang tua saya jika datang ke sana. Akhirnya hadiah itu saya tolak.

Sebenarnya ini bukan kali pertama saya mendapat hadiah dari stasiun radio. Waktu kelas satu SMA saya juga mendapat hadiah dari stasiun radio lain berupa kaset KACA or KATJA or something sounds like that. Berhubung saya tidak menghendaki hadiah itu, saja juga menolak hadiah itu. Apa-apaan ini? Saya bahkan tidak tahu kalau ada acara “bagi-bagi hadiah” saat siaran radio itu. Bukannya menolak rejeki, tapi saya rasa saya tidak begitu membutuhkannya. Jadi alangkah baiknya jika hadiah itu saya hibahkan kepada orang lain yang lebih membutuhkan atau menginginkannya. Dan memang, akhirnya hadiah-hadiah itu jatuh ke tangan orang lain entah-siapa. Coba kalau hadiahnya kaset band-band favorit saya, atau tiket konser beserta akomodasi untuk menonton konser band-band favorit saya, atau jalan-jalan ke luar kota / negeri…saya rasa saya akan menerimanya, hahahahaha…

confession on feb 14th, 2008 (f**klentine’s day)

Diarsipkan di bawah: others — cikudit @ 9:36 am

Tulisan ini tidak ada hubungannya dengan valentine’s day, sama sekali. Hanya saja kebetulan saya membuat pengakuan tentang CIKUDIT’S WEBLOG tepat pada hari tersebut.

Dalam blog ini saya membuat beberapa tulisan berupa cerpen dan puisi (silahkan klik “karya” di sebelah kanan untuk membaca tulisan-tulisan tersebut). Saya tidak tahu ada yang menyukai tulisan-tulisan tersebut atau tidak, yang jelas tulisan-tulisan tersebut membuat saya cukup puas sehingga berani saya tampilkan di blog ini.

Sebenarnya itu adalah salah satu cara saya untuk mewujudkan cita-cita saya sebagai seorang penulis. Ada yang berkata tulisan itu cukup bagus dan mendorong saya untuk menerbitkannya. Yah saya harap saya bisa segera melakukannya.

Dan perlu diketahui bahwa tulisan-tulisan itu berubah 180 derajat dari tulisan-tulisan saya jaman SMA dulu. Kalau boleh saya bilang, tulisan-tulisan tersebut memang lebih “matang” daripada tulisan-tulisan sebelumnya.

Oh ya, saya baru menyadari bahwa sampai saat ini SEMUA cerpen dan puisi yang saya muat berhubungan dengan kematian. Yah sejujurnya saya agak menyesali hal ini, kenapa bisa begitu ya? Saya rasa tidak salah jika saya menulis bagian “about me” dalam friendster saya dengan “penulis yang terobsesi pada kematian”. Saya tahu, lama-kelamaan cerpen saya tidak akan berkembang jika terus seperti ini, maka saya akan mencoba membuat cerpen yang lebih “berwarna”, selain “hitam”.

Februari 13, 2008

yang penting, aku masih hidup sampai detik ini

Diarsipkan di bawah: (my) life — cikudit @ 1:44 am

terus terang, aku tidak terkejut menerima kenyataan itu, karena aku memang sudah merisaukannya akhir-akhir ini. tapi cukup tak disangka pula bahwa kerisauanku itu memang benar-benar ada, walaupub sedikit nelenceng dari yang aku perkirakan.

aku hanya bisa pasrah menerima kenyataan ini, tapi tetap berdoa dan memohon, serta berusaha dengan cara-cara yang ada di hadapanku sekarang. yaaah doa di malam-malam dingin dan sepi, memohon di setiap jengkal aktivitasku, dan menjalani proses penyembuhan dengan minum 14 kapsul setiap harinya.

ak tak meminta ini, sungguh. aku bahkan telah meyakinkan diriku untuk tidak merisaukannya sejak kecemasan mulai muncul. aku telah berdoa, memohon kepada pemilik jiwa ini sejak kecemasan mulian muncul dan aku belum mendapat kepastian, tapi ternyata tak terkabul. aku telah mempercayai pernyataan “90% dari apa yang kita takutkan tidak pernah terjadi”, tapi tetap juga terjadi.

aku jadi berpikir, apa aku telah membuat dosa besar? apa ini adalah hukuman untukku? tapi apa salahku? apa tak bisa dimaafkan? apa aku bisa bertahan dengan ini? apa aku cukup kuat?

aku tak akan menyalahkan siapa-siapa. itu hanya akan membuang waktuku. aku hanya akan membuang waktuku untuk berdoa dan memohon, serta berusaha menyembuhkannya. aku ingin sebentar lagi semua usahaku berhasil, sehingga kecemasan yang membuncah ini serega hilang. aku tak mau kalah, aku tak ingin mati karena ini. tolong aku Tuhan…aku pasti sembuh!

hidup bukan lah hari kemarin atau hari esok, tapi HARI INI! dan yang penting, aku masih hidup sampai detik ini, entah apa yang akan terjadi detik berikutnya. jiwa ini milik Tuhan, hanya Dia yang tahu apa yang akan terjadi pada jiwa ini. aku hanya bisa berharap agar aku masih diberi kesempatan untuk memperbaiki hidupku dan tidak mengulangi kesalahan. ampuni aku, Tuhan!

Februari 11, 2008

ralat “iklan bersambung”

Diarsipkan di bawah: others — cikudit @ 6:22 am

ehm, ehm…jd begini…ternyata untuk meneruskan tulisan sebelumnya tentang “iklan bersambung” dari salah satu produk kecantikan itu, aku sudah menemukan hasilnya.

yah…secara tidak sengaja temanku bercerita tanpa aku mempunyai niat untuk survei. temanku berkata demikian “eh aku jadi tertarik beli produknya lho!”

nah jadi itu lah hasilnya, iklan bersambung itu terbukti meningkatkan minat temanku untuk membeli produknya. mungkin banyak kalangan yang juga jadi berminat untuk membeli produk tersebut. jadi ide iklan yang demikian “fresh” tersebut terbukti cukup menarik minat masyarakat untuk membeli produk tersebut.

tapiii yang agak mengejutkan adalah cerita temanku tadi dilanjutkan dengan “abis kalo liat iklannya, liat si ceweknya itu, aku berasa ngaca sih…” CAPE DE…

mohon maaf atas keputusan gegabahku yang meragukan nilai keefektifan iklan tersebut dalam menawarkan produknya.

Februari 9, 2008

CERPEN

Diarsipkan di bawah: karya — cikudit @ 2:10 am

Sebuah Alasan

Oleh : Dita K. Wardani

 

Aku kembali menapaki kenangan, tentang alasan kenapa aku hidup dan kenapa aku mati. Perjalanan menapaki masa lalu ini aku mulai dari masa SMP-ku, di mana aku mengalami masa terburuk sepanjang hidupku.

“Kami sudah putuskan untuk berpisah,” kata Ayah malam itu.

Aku hanya terdiam, otakku seperti kosong seketika.

Kami tahu kamu masih terlalu kecil untuk menerima ini, tapi kami sudah memutuskan,” Ibu menjelaskan.

Aku masih diam, tiba-tiba saja semua memori tentang keluarga kami terputar kembali di otakku.

Kamu tidak apa-apa?” rupanya kebisuanku mendorong Ayah untuk memastikan bahwa aku mendengarkan mereka.

Ibu benar-benar minta maaf soal ini. Ini pasti sama sekali bukan hal yang kamu inginkan,” Ibu pun kembali angkat suara.

Aku berdiri, melangkah meninggalkan mereka di ruang tamu dan masuk ke kamarku, masih dalam kebisuan. Keputusan itu seakan membekukan air mataku. Aku sama sekali tidak tahu apa yang harus kulakukan. Orang tuaku akan berpisah, aku tidak bisa membayangkan keluarga ini benar-benar pecah. Ini sama sekali bukan hal yang aku inginkan, bahkan dalam mimpi terburukku sekalipun.

Aku pernah berpikir untuk mati. Dengan begitu aku tidak perlu melihat kehancuran keluarga ini. Dan mungkin jika aku bunuh diri, orang tuaku akan tahu bahwa aku sangat tidak menginginkan perpisahan ini. Aku sedang memilih waktu dan cara yang tepat untuk melakukannya saat mataku terpaku pada mading sekolah.

Ada sebuah tulisan di mading itu, tentang kehidupan. Di sana tertulis bahwa kita tidaklah sendiri saat merasa takut atau gelisah, ribuan bahkan jutaan orang mungkin juga merasakan hal yang sama. Juga ditulis bahwa hidup adalah anugerah, yang meskipun diiringi dengan penderitaan, tapi wajib disyukuri. Kemudian mataku tertuju pada penulisnya, Windra Aska Putra, IX-3. Ada kesejukkan di hatiku saat membaca namanya, dan senyumku yang tak pernah muncul sejak orang tuaku menyatakan keputusannya untuk berpisah tiba-tiba saja hadir kembali.

Setelah beberapa hari bertanya pada teman-temanku, akhirnya aku menemukannya, pemilik nama Windra Aska Putra itu. Dia kakak kelasku. Tidak ada yang spesial dari penampilannya, tapi siapapun yang melihatnya pasti akan merasakan ada sesuatu di dalam dirinya. Entah pantas atau tidak, tapi sejak saat itu dia kuanggap sebagai penyelamat hidupku. Tanpa tulisan yang pernah dimuatnya di mading, mungkin saat ini aku sudah membusuk di dalam tanah dilumuri dosa-dosaku.

Hanya satu tahun waktu yang diberikan Tuhan padaku untuk melihat sosok penyelamat hidupku itu. Setelah itu dia lulus, meninggalkanku yang masih haus memandang sosoknya di SMP ini. Selama waktu satu tahun itu aku memutuskan, dia lah alasanku hidup. Tapi setelah dia pergi, tidak ada alasan bagiku untuk meninggalkan dunia ini, sudah terlambat untuk menghentikan denyut nadi ini secara paksa. Yang aku tahu dari apa yang aku rasakan, dia masih hidup, jadi tidak ada alasan bagiku untuk mati.

*

 

Sudah satu tahun aku kehilangan sosok penyelamat hidupku. Besok aku akan menginjakkan kaki di SMA baru dan aku masih belum dengar kabar tentangnya. Minggu pagi itu, aku sedang berjalan sepulang sari pasar saat aku merasa aku mulai gila. Aku melihat sosoknya di depan rumah tetanggaku. Rumah itu sebelumnya kosong selama beberapa minggu. Di saat itu lah aku merasa aku mulai gila, aku sedang membayangkan sosoknya dan tiba-tiba saja aku melihatnya di depan rumah tetanggaku.

Aku berdiri di depan pagar rumah itu. Dia sedang berjalan dari halaman ke depan pintu rumahnya. Saat memegang kenop pintu, dia berbalik dan memandangku. Wajahku pastilah sangat tidak wajar sehingga dia berjalan menghampiriku dan membuka pagarnya.

“Ada perlu apa?” tanyanya dengan seulas senyum.

Aku merasakan ekpresi wajahku hanya bengong dan mengedipkan mata satu kali sebelum menjawab pertanyaannya, “Tidak ada,” lalu berbalik dan menuju rumahku yang terletak di sebelah rumahnya.

“Aku Windra,” katanya, kemudian aku berbalik menatapnya. “Tetangga baru di sini,” katanya lagi sambil mengulurkan tangannya.

“Aku tahu,” hanya itu yang kuucapkan saat menjabat tangannya, kemudian aku berbalik dan pergi, meninggalkan ekspresi heran di wajahnya.

Aku menutup pintu rumah dan berdiri di baliknya. Entah apa yang aku pikirkan, yang jelas senyum tersungging dari bibirku. Melihat tingkahku ini, Ibu mengambil tas belanjaan dari tanganku dengan wajah heran. Mungkin ia takut tingkahku selanjutnya adalah melompat-lompat kegirangan dan akhirnya memecahkan telur-telur yang baru aku beli di pasar.

“Kamu kenapa? Kok senyum-senyum sendiri? Ibu tidak pernah melihatmu senyum seceria itu,” tanya Ibu sambil berjalan ke dapur.

“Tidak ada. Aku hanya senang karena besok akan masuk SMA,” jawabku sambil masuk ke kamar dan menutup pintunya.

Menyadari apa yang baru saja kukatakan, aku jadi berpikir. Mungkinkah dia akan menjadi kakak kelasku lagi? Apa dia juga sekolah di SMA yang sama denganku? Mungkin saja, SMA-ku ‘kan dekat dengan rumah. Mungkin dia juga memilih sekolah yang dekat dengan rumah.

Sampai satu bulan aku tidak pernah menemukannya di SMA-ku. Apa dia tidak sekolah di sini? Aku mendapatkan jawaban atas pertanyaan itu saat melihatnya berangkat sekolah pagi itu. Dia mengenakan seragam khusus sekolah yang berbeda dengan seragam khusus sekolahku. Tapi aku tidak tahu seragam SMA mana yang dikenakannya.

Satu tahun, lagi-lagi hanya selama itu lah Tuhan memberikan waktu padaku. Selama satu tahun dia menjadi tetanggaku, tidak pernah ada interaksi antara aku dengan dia. Paling-paling hanya saling melempar senyum saat kebetulan aku melihatnya di depan rumah. Di daerah perumahan ini, masyarakatnya memang cenderung individualis dan tidak banyak berinteraksi dengan sesama warga.

Aku sedang berpikir dan hampir membuat keputusan bahwa dia memang diciptakan untukku. Mulai dari ketidaksengajaanku membaca mading sekolah dan membaca tulisannya (sebelumnya aku tidak pernah tertarik dengan mading sekolah, bahkan untuk sekadar melihatnya), hingga sekarang dia menjadi tetanggaku selama hampir satu tahun. Saat keputusan itu hampir terucap di hatiku, Ibuku tiba-tiba berkata, “Bulan depan kita pindah.”

“Apa? Pindah?” tanyaku tak percaya.

“Iya, Ibu dipindahtugaskan ke luar pulau.”

“Aku tidak mau!”

“Ibu tidak memberimu pilihan.”

“Aku bisa kost di sini dan Ibu bekerja di sana.”

Ibu bilang, tidak ada pilihan!”

“Ibu egois!”

Kau selesaikan sekolahmu di sana. Setelah itu jika masih ada yang membuatmu ingin kembali ke sini, Ibu akan mengijinkanmu kuliah dan kost di sini.”

“Apa bedanya sekarang atau setelah aku lulus SMA?”

“Seharusnya kamu bersyukur sudah Ibu beri toleransi.”

Apa aku boleh marah pada Tuhan? Kenapa Dia tidak mengijinkanku hidup di dekat penyelamat hidupku? Aku menangis sejadi-jadinya sepanjang hari itu. Baru satu tahun aku menemukannya kembali, kenapa sekarang aku harus berpisah dengannya lagi? Dan memang, hanya satu tahun waktu yang Tuhan berikan. Setelah itu, aku meninggalkannya. Dan kali ini keputusanku adalah aku tidak akan mengingatnya lagi. Dia adalah alasan aku masih hidup sampai saat ini. Dan walaupun aku pergi, yang aku tahu dari apa yang aku rasakan, dia masih hidup, jadi tidak ada alasan bagiku untuk mati.

*

 

Akhirnya setelah dua tahun aku membuang jauh-jauh ingatan tentangnya, aku kembali ke kota ini. Aku kuliah di sini, bukan karena dia ada di kota ini. Tapi karena aku tidak mau mencabut kata-kataku pada Ibuku dua tahun lalu tentang keinginanku bertahan di kota ini. Keegoisan masa lalu yang membuatku kembali ke kota ini, sekalipun aku tidak memperdulikan tentang penyelamat hidupku itu lagi.

Ternyata dia kuliah di tempat yang sama denganku. Aku tidak tahu, memang sudah ditakdirkan dia tercipta untukku atau ini hukuman atas keegoisanku. Yang jelas kurasakan hatiku berontak untuk tidak melupakannya. Lalu perasaan itu muncul kembali, dia masih kuanggap sebagai penyelamat hidupku. Walaupun aku tidak mengenalnya kecuali saat dia memperkenalkan diri saat pertama kali pindah ke sebelah rumahku dulu, aku kembali merasa dia memang tercipta untukku. Kalau tidak, mengapa aku masih dipertemukan dengannya walau aku telah memutuskan untuk melupakannya?

Hari ini aku bertemu dengannya di kampus. Dan itu adalah hal terakhir yang kulihat sebelum aku jatuh pingsan. Saat bangun, aku telah berada di rumah sakit dan beberapa menit kemudian seorang dokter dan seorang perawat menghampiriku.

Tadi teman-temanmu yang membawamu kemari. Mereka bilang orang tuamu di luar kota?” kata dokter itu.

“Iya,” jawabku singkat.

Bisa saya menghubungi mereka?”

Ada apa? Apa aku sakit? Katakan saja padaku, jangan pada mereka.”

“Tapi orang tuamu berhak mengetahui keadaanmu.”

“Aku lebih berhak untuk itu.”

“Baiklah. Kami menemukan kelainan pada otakmu.”

“Apa aku gila?” pertanyaan bodoh itu meluncur begitu saja dari mulutku. Bisa saja kan, pemilik nama Windra Aska Putra itu telah membuatku gila.

“Bukan, tapi kelainan yang bisa membahayakan nyawamu.”

“Katakan saja langsung!”

Kelainan pada sistem otakmu ini akan menghentikan semua sistem kerja otak. Kamu tahu ‘kan otak mengatur seluruh organ tubuh? Jika itu terjadi, semua sistem tubuh akan berhenti dan…”

“Aku akan mati, jelas. Apa tidak bisa diperbaiki?”

Dokter itu hanya menggeleng.

Baiklah, apa lagi sekarang? Aku akan mati? Baiklah, semua orang pasti akan mati, tapi tidak di usiaku ini kan? Lagi-lagi aku berpikir Tuhan tidak mengijinkanku ada di dekat penyelamat hidupku. Dan lagi-lagi, ini adalah satu tahun setelah aku berada dalam satu kampus dengannya.

Kata dokter, aku bisa mati kapan saja. Dia minta aku untuk menjalani hidup dengan rileks agar aku bisa hidup lebih lama. Tapi aku tidak mau menunggu lagi, aku akan bicara pada penyelamat hidupku, mengatakan padanya bahwa selama lima tahun ini dia kuanggap sebagai penyelamat hidupku. Aku tidak ingin mati tanpa dia mengetahui hal itu. Sudah kuputuskan, akan aku katakan.

Kamu adalah penyelamat hidupku,” kataku begitu bertemu dengannya.

Sejenak dia memandangku kemudian menoleh kanan kiri memastikan bahwa aku bicara dengannya, “Kamu bicara denganku?”

“Iya. Aku hanya ingin mengatakan itu. Kamu kuanggap sebagai penyelamat hidupku selama lima tahun ini. Aku memutuskan untuk bunuh diri sebelum membaca tulisanmu di mading SMP. Tapi kemudian aku memutuskan untuk tetap hidup, dan itu karena tulisanmu di mading SMP.”

Ya, percakapan itulah yang kubayangkan saat aku berangkat ke kampus hari ini. Aku merancang kalimat semacam itu untuk mengatakan yang sejujurnya padanya. Aku berhenti sebentar di papan pengumuman untuk membaca info terbaru. Ada berita tentang demonstrasi yang dilakukan mahasiswa kampusku kemarin. Mataku tertuju pada sebuah pengumuman.

REST IN PEACE

WINDRA ASKA PUTRA

Ekonomi Bisnis 2006

Menghembuskan nafas terakhir di tengah advokasi membela kepentingan kampus. Pahlawan advokasi, menjadi sasaran tembakan aparat keamanan. Semoga arwahnya diterima di sisi-Nya dan diampuni segala dosanya.

Fotonya juga dicantumkan di papan pengumuman itu. Aku nyaris tertawa saat membaca pengumuman itu. Tapi kemudian kurasakan sakit kepala hebat selama beberapa detik. Kemudian aku jatuh, masih bergulat dengan rasa sakit itu. Sedetik kemudian aku tertawa seperti orang gila. Betapa bodohnya aku ditipu dengan segala kebetulan di antara aku dan penyelamat hidupku. Itulah yang membuatku tertawa, Tuhan benar-benar tidak mengijinkan aku bersamanya. Tak lama kemudian, sakit itu hilang, diikuti kebutaan pada mataku, kebisuan pada mulutku, ketulian pada telingaku, dan kemudian berhentinya kerja seluruh organ tubuhku.

Dan di sinilah jasadku sekarang , terkulai lemas di bawah nisan bertuliskan namaku. Arwahku masih tertawa seperti orang gila. Bagaimana bisa penyelamat hidupku juga sekaligus menjadi malaikat pencabut nyawaku? Sebuah alasan, adalah dia, alasanku hidup dan alasanku mati. Yang aku tahu dari apa yang aku rasakan, aku kembali berada di tempat yang sama dengannya. Kali ini aku yakin, Tuhan tidak akan memisahkanku dengannya lagi.

* * *

080208

« Tulisan Lebih BaruTulisan yang Lebih Tua »

Blog pada WordPress.com.