Love will find u if u try.
AND
akan datang dengan sendirinya.
Bertentangan banget ya? Jadi mana yang bener??? Can anyone answer???
Love will find u if u try.
AND
akan datang dengan sendirinya.
Bertentangan banget ya? Jadi mana yang bener??? Can anyone answer???
“Pernikahan”…yep, udah pada tau ‘kan kata itu? Arti dan maknanya? Yah, kira2 begitu lah. Kalo denger kata itu tuh berasa sesuatu yang sakral banget gitu, yang kudu dijaga sebaek mungkin dan ga ada maen2 sama kata itu.
Tapi ada ga sih yang sadar kalo kata itu tuh sekarang udah digeser kedudukannya sama satu kata yang…yah, hampir mirip lah, tapi maknanya peyoratif. Ada yang tau kata yang saya maksud? Yak, kata itu adalah “perkawinan”. Ada yang ngrasa gimanaaa gitu ga sih kalo denger kata “perkawinan” yang kata aslinya adalah “kawin”. Kalo ga tau ya gampangnya gini deh…
Kata “nikah” dulu sering dipakai untuk MANUSIA
Sedangkan kata “kawin” dulu sering dipakai untuk BINATANG
Well, mungkin ada yang menyadari hal itu. Tapi saya juga ga berhak nyalahin. Singkatnya, menurut saya, kata “kawin” itu terlalu “rendah” kalo dipake buat manusia, berasa ga manusiawi gitu. Gini deh, kalo nikah tu kan pake adat agama dan daerah, ada ikatannya gitu. Kalo kawin, ga harus kan? I mean, “kawin” is just about sex, isn’t it?
Yang bikin saya ga enak tiap nonton televisi tuh hampir SEMUA orang di televisi tu nyebutnya “perkawinan” atau “kawin”. Di acara infotainment2 tu ‘kan kalo artis nikah nyebutnya “perkawinan”, bukan “pernikahan. Risih aja gitu. Nah berhubung televisi itu media yang paling gampang ditiru atau dijadikan “panutan”, maka tersebar luaslah kata-kata itu untuk menggantikan posisi kata “pernikahan” dan “nikah” yang lebih sakral. Akhrinya sekarang hampir semua orang menirunya.
Yah, saya sih prihatin aja. Ikatan antara dua manusia yang sakral kok rasanya jadi lebih “rendah” saat kata “perkawinan” yang digunakan, bukan “pernikahan”. Yep, kata sakral itu kayaknya udah mau punah. Ayo donk lestarikan! Bukannya kalo untuk manusia lebih enaknya denger “pernikahan”, bukan “perkawinan”. Feel the difference ga??? What I want to ask is just “KE MANA “PERNIKAHAN”??”
Setahuku, Jakarta itu macet. Banyaaaaakk sekali kendaraan di ruas-ruas jalan, terutama ruas jalan utama dan pada jam-jam sibuk. Polusi di mana-mana. Perjalanan memakan waktu lebih lama daripada seharusnya karena kepadatan ruas jalan. Belum lagi bunyi klakson yang tidak nyaman didengar. Mungkin itu yang membuatku tidak berminat tinggal atau kerja di Jakarta, padahal aku ingin kerja di TransTV.
Nah sekarang, di kota di mana aku berada, tinggal dan kuliah, Jogjakarta, aku mulai merasakan ketidaknyamanan. Yah…akhir-akhir ini sepertinya Jogja semakin padat. Kendaraan seperti tumpah ruah ke jalan, tidak hanya pada jam-jam sibuk, tapi hampir seharian. Meskipun bunyi klakson tidak begitu meriah, tapi berkendara di jalan rasanya semakin membutuhkan kesabaran dan kehati-hatian. Jalan-jalan pintas yang terhitung bukan jalan utama semakin ramai. Bayangkan saja bagaimana jadinya jika jalan yang tidak begitu lebar dipenuhi dengan ratusan kendaraan. Belum lagi antrian di lampu lalu lintas. Antriannya semakin panjang dan selalu “dihiasi” bunyi klakson. Polusi…slayer harus selalu melindungi pernapasanku saat berkendara. Panas…katanya stop global warming, tapi rasanya kok malah memacu global warming? Belum lagi lubang-lubang yang “mewarnai” ruas-ruas jalan, membuat berkendara menjadi semakin tidak nyaman.
Sangat tidak nyaman, itulah yang kurasakan tentang Jogja-ku, Jogja kita. Tanya kenapa?
Yak, entah kenapa saya menulis ini. Sudah mengerikan, menurut saya. Ya ya ya, yang saya bicarakan tentu saja perang tarif antara provider-provider ponsel di Indonesia. Ini bukan fenomena implisit, terlalu eksplisit malah menurut saya.
Bisa kita lihat iklan-iklan yang saling menyindir antar sesama provider ponsel. Perang tarif terlihat jelas. Masing-masing provider berlomba memberi tarif termurah, tak lupa dengan bumbu sindiran kepada provider lain yang mematok tarif lebih tinggi. Persaingan yang semakin tajam, menurut saya. Sebenarnya sudah over, tapi kita sudah terbiasa menjadi penontonnya.
Kalau beberapa waktu yang lalu perang tarif ini memaksa provider-provider menggencet tarif SMS-nya, maka sekarang tarif teleponlah yang terus digencet. Entah siapa yang memulai, tapi perang masih berlangsung sampai saat ini. Entah kapan akan berakhir, mungkin saat tarif telepon Rp 0,- tanpa syarat, kemanapun, dimanapun, kapanpun, dan selama apapun.
Kalau tarif SMS yang digencet sih memang sudah sewajarnya mengingat sebenarnya selama ini tarif SMS Rp 350,- itu adalah tiga kali lipat dari tarif aslinya. Kalau tarif asli telepon, terus terang saya belum tahu.
Yang jelas provider-provider ponsel tersebut memaksa pengguna untuk berlarian ke sana kemari dengan adanya perang tarif ini. Sebentar ganti kartu ini lah, sebentar ganti kartu itu lah. Dan biasanya alasannya adalah “habis lebih murah sih”. Satu hal yang saya tahu, pengguna ponsel menjadi kelimpungan sekaligus dimanjakan dengan adanya perang tarif ini. Terus saja, sampai tarif benar-benar Rp 0,- tanpa syarat apapun. Saat itu lah pulsa akan “mati”.
yah…emh…yeah…well…what should i say???
jujur yah, aku shock liat bangunan ini n nyaris ga mengenalinya sebagai tempatku bernaung selama sekitar 12tahun!
well…yah, bangunan ini PARAH BANGET kan??? ya Tuhan…rumah ini emg udah jadi milik entah-siapa sejak entah-kapan, tapi bener-bener keterlaluan kalo wujud ex-rumah tercintaku jadi kayak gini! kayak ga ada yang ngrawat (mungkin emang iya)
ooohh aku masih inget banget…alamatnya jalan teknologi VIII no.20 siteba padang…
wah, parah bener nih…kok jadi kayak gini sih bentuknya???
i mizz u, my ex-home!
Tulisan ini tidak ada hubungannya dengan valentine’s day, sama sekali. Hanya saja kebetulan saya membuat pengakuan tentang CIKUDIT’S WEBLOG tepat pada hari tersebut.
Dalam blog ini saya membuat beberapa tulisan berupa cerpen dan puisi (silahkan klik “karya” di sebelah kanan untuk membaca tulisan-tulisan tersebut). Saya tidak tahu ada yang menyukai tulisan-tulisan tersebut atau tidak, yang jelas tulisan-tulisan tersebut membuat saya cukup puas sehingga berani saya tampilkan di blog ini.
Sebenarnya itu adalah salah satu cara saya untuk mewujudkan cita-cita saya sebagai seorang penulis. Ada yang berkata tulisan itu cukup bagus dan mendorong saya untuk menerbitkannya. Yah saya harap saya bisa segera melakukannya.
Dan perlu diketahui bahwa tulisan-tulisan itu berubah 180 derajat dari tulisan-tulisan saya jaman SMA dulu. Kalau boleh saya bilang, tulisan-tulisan tersebut memang lebih “matang” daripada tulisan-tulisan sebelumnya.
Oh ya, saya baru menyadari bahwa sampai saat ini SEMUA cerpen dan puisi yang saya muat berhubungan dengan kematian. Yah sejujurnya saya agak menyesali hal ini, kenapa bisa begitu ya? Saya rasa tidak salah jika saya menulis bagian “about me” dalam friendster saya dengan “penulis yang terobsesi pada kematian”. Saya tahu, lama-kelamaan cerpen saya tidak akan berkembang jika terus seperti ini, maka saya akan mencoba membuat cerpen yang lebih “berwarna”, selain “hitam”.
ehm, ehm…jd begini…ternyata untuk meneruskan tulisan sebelumnya tentang “iklan bersambung” dari salah satu produk kecantikan itu, aku sudah menemukan hasilnya.
yah…secara tidak sengaja temanku bercerita tanpa aku mempunyai niat untuk survei. temanku berkata demikian “eh aku jadi tertarik beli produknya lho!”
nah jadi itu lah hasilnya, iklan bersambung itu terbukti meningkatkan minat temanku untuk membeli produknya. mungkin banyak kalangan yang juga jadi berminat untuk membeli produk tersebut. jadi ide iklan yang demikian “fresh” tersebut terbukti cukup menarik minat masyarakat untuk membeli produk tersebut.
tapiii yang agak mengejutkan adalah cerita temanku tadi dilanjutkan dengan “abis kalo liat iklannya, liat si ceweknya itu, aku berasa ngaca sih…” CAPE DE…
mohon maaf atas keputusan gegabahku yang meragukan nilai keefektifan iklan tersebut dalam menawarkan produknya.
Aku ingin menulis, hanya itu yang ada di otakku, tanpa tahu apa yang aku tulis dan kemana arahnya.
Aku ingin menulis, hanya itu yang ada di otakku, tanpa tahu apa artinya dan apa yang akan terjadi.
Aku ingin menulis, hanya itu yang ada di otakku, tanpa tahu siapa yang membaca dan bagaimana reaksinya.
Aku ingin menulis, hanya itu, sungguh…hanya itu.
PS : bt seseorang di sana yang menjadi pembaca setiaku, “blog ini tetap ada buat kamu” (melebih-lebihkan) hwuuu,,,
Saudara2 sekalian pasti sudah tahu iklan yang saya maksud. Iklan produk kecantikan itu lho, yang ada ceritanya dan terus bersambung. Saya cuma ingin tahu, apa sih motifnya membuat iklan seperti itu???
Agar menarik, jelas! Dengan begitu banyak yang akan menonton iklan tersebut dan sedikit banyak orang akan tahu produk apa yang mengiklankan cerita itu. Tapi apa tidak malah menyelewengkan fungsi iklan yang intinya adalah mengkomunikasikan suatu produk pada pemirsa? Soalnya pada akhirnya yang menarik untuk ditonton adalah iklannya, bukan produknya. Saya sendiri belum melakukan survei apakah penjualan produk tersebut meningkat atau tidak, tapi bagi saya sendiri yang menarik adalah cerita iklannya, bukan produknya. Jadi bagaimana menurut Anda??
Kasarnya, menurut saya iklan ini cukup memberikan angin segar bagi dunia periklanan Indonesia. Dunia periklanan akhir-akhir ini hanya menampilkan iklan yang lucu, saling menjatuhkan, atau bahkan terkesan “maksa” (maksudnya ide ceritanya dipaksakan). Nah iklan dengan cerita yang seperti sinetron ini (dengan banyak episode), saya rasa bisa memberikan trend baru dalam dunia periklanan Indonesia. Tapi ya itu tadi, saya masih meragukan keefektifannya sebagai iklan yang “menjual”.
Di sela kesibukanku di warnet, aku menyempatkan diri mengunjungi blog2 orang lain. Dan betapa shock-nya aku begitu mengetahui bahwa betapa TIDAK BERMUTUnya blogku ini! Aku menyesali hal ini, sungguh!
Jika dibandingkan, blogku sama sekali tidak ada apa-apanya dengan blog orang lain yang walaupun tulisannya singkat namun bermakna dan blog orang lain lagi yang menyisipkan berbagai referensi sebagai bahan tulisannya. What am i???
Feels like so stupid coz i wrote anything in my mind without any manner! I juzt…what a stupid am i?!
Aku ingin jadi penulis, entah kenapa. Aku pikir itu menarik, aku bisa menuliskan ide-ide yang tiba-tiba saja mencuat di otakku, dalam hal ini adalah ide-ide fiksi (aku rasa aku mengalami over dosis dalam hal ini). Aku benar-benar ingin bisa menulis cerita fiksi yang bagus, menarik, dan bermutu. Tapi aku sering sekali tidak bisa mengungkapkan ide itu. Kenapa? Aku juga benar-benar ingin bisa menerbitkan cerita-cerita fiksiku dan disukai semua orang (bukan AKUnya, tapi CERITAnya).
Itu adalah satu-satunya hal yang benar-benar aku inginkan untuk masa depanku (kalau bisa masa sekarang). Aku bahkan tak punya cukup waktu dan kemampuan untuk mewujudkannya. Tapi aku rasa aku harus tetap optimis. Aku tahu “optimis” bukanlah keahlianku, tapi aku harus bisa melakukannya, aku harus bisa mewujudkan satu-satunya hal yang benar-benar aku inginkan untuk hidupku.
AKU BENAR-BENAR INGIN BERKARYA!