Cikudit’s Weblog

Juli 12, 2008

A Story About A Girl

Diarsipkan di bawah: karya — cikudit @ 3:33 am

 

This is a story about a girl named “Lucky”… Early morning she wakes up with knock-knock-knock on the door… Hahaha…ga lah! Itu mah video klipnya Britney jaman muda dulu! Ok, I’m serious now…

 

Ini cerita tentang seorang gadis. Gadis ini hanya anak perempuan biasa, tanpa keistimewaan seperti indera keenam atau kecerdasan super. Biasa, ya, hanya gadis biasa. Umurnya sekitar seperlima abad saat kisah ini ditulis. Mungkin hidupnya masih panjang atau yah…siapa yang tahu? Yang jelas, untuk manusia seusianya, dia masih harus banyak belajar.

Setengah hidupnya hingga detik ini dia habiskan dengan berpikir bahwa dia adalah orang yang baik, yang jika mati detik ini juga akan langsung masuk surga, atau yah…mungkin hanya “mampir” sebentar ke neraka. Ya, memang aneh. Tidak seperti orang lain yang jika merenungkan kehidupannya di masa lalu maka akan menemukan ribuan bahkan jutaan kesalahan, besar maupun kecil. Dia berbeda, setiap merenungkan perjalanan hidupnya, maka akan semakin yakin pula dia bahwa dia memang baik dan hampir selalu benar. Apa itu adalah bentuk kesombongan? Entahlah. Dia tidak pernah memikirkannya. Yang dia tau, dia adalah orang yang baik, bahkan terlalu baik di dunia yang katanya kejam ini.

Ada satu prinsip yang entah sejak kapan tertanam di dalam dirinya. Sebenarnya hanya prinsip umum yang belum tentu bisa dijalani oleh semua orang. Prinsip itu sering disebut tepo seliro oleh orang Jawa. Sementara dia sendiri meyakini prinsip itu sebagai hukum timbal balik, apa yang kau lakukan pada orang lain maka akan dilakukan orang lain kepadamu. Jadi dia selalu melakukan hal yang baik (menurutnya) dengan harapan orang lain pun akan berlaku baik padanya. Dia tidak mau melakukan hal buruk pada orang lain dengan harapan tidak ada orang lain yang berlaku buruk padanya. Ya, prinsip itulah yang diterapkannya. Dan dia rasa, dia telah melakukan hal yang baik. Karena itulah dia menanggap bahwa dirinya adalah orang yang baik.

Seiring kedewasaan dan bertambah luasnya dunia yang dia lihat, dia menemukan hal baru dari prinsip yang selalu dianutnya. Hidup tidak semudah itu ‘kan? Meski sering ditemukannya kekecewaan karena perilaku buruk orang lain terhadapnya, dia tetap berkeyakinan bahwa bersikap baik adalah suatu keHARUSan. Dan meski tanpa sengaja dia memperlakukan orang lain dengan buruk, dia pasti akan menyesalinya kemudian.

Sampai akhirnya ada titik kejenuhan di mana dia merasa menikmati saat-saat memperlakukan orang lain dengan buruk. Dia tidak mengerti mengapa. Mungkin itulah titik jenuh dari keharusan menjaga perilaku baiknya. Mungkin tanpa disadarinya jiwa manusia yang tak sempurna dalam dirinya telah memberontak. Entahlah. Dia tidak tahu.

Puncaknya, dia menemukan sebuah perasaan di mana kekejaman memberikan kepuasan di dalam dirinya. Mungkin kata “kejam” terlalu dramatis, tapi kata itulah yang menurutnya patut mengkategorikan perilaku buruknya terhadap orang lain. Di mana dia merasa puas saat orang lain merasa bersalah padanya. Di mana dia merasa puas melihat orang lain “tersiksa” karena perilakunya. Dan berbagai hal lain yang membuatnya merasa puas dengan “penderitaan” orang lain. Yah, itulah arti “kekejaman” dalam kamusnya.

Dengan berbekal prinsip tadi, dia mengerti bahwa “kekejaman” di dalam dirinya adalah suatu kesalahan, kesalahan besar. Namun dia tidak tau apa yang harus dilakukannya, hal itu muncul begitu saja. Dia tau jiwa-harus-berbuat-baik-nya telah lelah. Tapi dia tetap memegang prinsip itu, dan bagaimanapun juga, dia HARUS tetap berbuat baik.

Kini jiwanya berada di antara dua hal, antara “keharusan” dan “kelelahan”. Dia tau dia harus memilih “keharusan”, tapi mungkin “kelelahan” jiwanya telah membuatnya berlaku menentang “keharusan”. Dia yakin “keharusan” itu ada di dalam dirinya, dia harus berbuat baik, sampai kapanpun. Dia sangat yakin, karena di balik kepuasan atas perilaku “kejam”nya, dia masih memiliki rasa bersalah, rasa kasihan.

Ya, itulah masalah barunya. Kelelahannya untuk menjadi manusia baik ternyata masih menyisakan rasa bersalah, dan belas kasihan. Itulah yang membuatnya merasa berada di antara dua dunia kepribadiannya, baik atau buruk. Setiap orang mungkin pernah merasakan apa yang kini dirasakannya, berada antara dunia baik dan dunia buruk. Tapi masalah baru yang ditemuinya adalah kebesaran egonya. Keegoisannya mungkin adalah sumber dari semua yang dirasakannya sekarang. Keegoisan untuk menjadi manusia yang baik. Keegoisan untuk memenangkan kelelahan jiwanya dan menjadikannya alasan untuk berbuat “kejam”.

Rasa bersalah dan belas kasihan yang masih tersisa dari keegoisannya itu berakhir tanpa kata “maaf” atau hanya sekadar perilaku yang menunjukkan penyesalan. Dia tau dia salah, dia tau dia harus meminta maaf, tapi keegoisan dan perasaan memiliki harga diri yang tinggi membuat apa yang seharusnya dilakukan tidak dia lakukan. Betapa sulit baginya untuk mengucap “maaf” meski dia tau dia harus mengucapkannya dengan sepenuh hati.

Dia, orang yang meyakini keHARUSan untuk selalu berbuat baik, namun juga menyadari bahwa dirinya tidak bisa menjadi sempurna. Hingga jiwanya lelah dan memberontak, melakukan kesalahan yang disebutnya sebagai “kekejaman”. Meski dia tau itu salah, namun keegoisan dan harga dirinya menolak untuk mengaku salah. Lalu bagaimana? Dia tidak tau harus menjadi apa, siapa, dan bagaimana. Dia terjebak dalam dunia yang dibuatnya sendiri. Apa yang harus dilakukannya?

 

Buat yang mau ngasih komentar atau saran atau kritik atau apa aja buat tulisan ini, pelase just leave a comment. Boleh tentang penulisnya alias saya, atau tentang isi tulisannya. Mau ngasih saran buat si “dia” juga boleh. Ditunggu ya, Thx…

Februari 9, 2008

CERPEN

Diarsipkan di bawah: karya — cikudit @ 2:10 am

Sebuah Alasan

Oleh : Dita K. Wardani

 

Aku kembali menapaki kenangan, tentang alasan kenapa aku hidup dan kenapa aku mati. Perjalanan menapaki masa lalu ini aku mulai dari masa SMP-ku, di mana aku mengalami masa terburuk sepanjang hidupku.

“Kami sudah putuskan untuk berpisah,” kata Ayah malam itu.

Aku hanya terdiam, otakku seperti kosong seketika.

Kami tahu kamu masih terlalu kecil untuk menerima ini, tapi kami sudah memutuskan,” Ibu menjelaskan.

Aku masih diam, tiba-tiba saja semua memori tentang keluarga kami terputar kembali di otakku.

Kamu tidak apa-apa?” rupanya kebisuanku mendorong Ayah untuk memastikan bahwa aku mendengarkan mereka.

Ibu benar-benar minta maaf soal ini. Ini pasti sama sekali bukan hal yang kamu inginkan,” Ibu pun kembali angkat suara.

Aku berdiri, melangkah meninggalkan mereka di ruang tamu dan masuk ke kamarku, masih dalam kebisuan. Keputusan itu seakan membekukan air mataku. Aku sama sekali tidak tahu apa yang harus kulakukan. Orang tuaku akan berpisah, aku tidak bisa membayangkan keluarga ini benar-benar pecah. Ini sama sekali bukan hal yang aku inginkan, bahkan dalam mimpi terburukku sekalipun.

Aku pernah berpikir untuk mati. Dengan begitu aku tidak perlu melihat kehancuran keluarga ini. Dan mungkin jika aku bunuh diri, orang tuaku akan tahu bahwa aku sangat tidak menginginkan perpisahan ini. Aku sedang memilih waktu dan cara yang tepat untuk melakukannya saat mataku terpaku pada mading sekolah.

Ada sebuah tulisan di mading itu, tentang kehidupan. Di sana tertulis bahwa kita tidaklah sendiri saat merasa takut atau gelisah, ribuan bahkan jutaan orang mungkin juga merasakan hal yang sama. Juga ditulis bahwa hidup adalah anugerah, yang meskipun diiringi dengan penderitaan, tapi wajib disyukuri. Kemudian mataku tertuju pada penulisnya, Windra Aska Putra, IX-3. Ada kesejukkan di hatiku saat membaca namanya, dan senyumku yang tak pernah muncul sejak orang tuaku menyatakan keputusannya untuk berpisah tiba-tiba saja hadir kembali.

Setelah beberapa hari bertanya pada teman-temanku, akhirnya aku menemukannya, pemilik nama Windra Aska Putra itu. Dia kakak kelasku. Tidak ada yang spesial dari penampilannya, tapi siapapun yang melihatnya pasti akan merasakan ada sesuatu di dalam dirinya. Entah pantas atau tidak, tapi sejak saat itu dia kuanggap sebagai penyelamat hidupku. Tanpa tulisan yang pernah dimuatnya di mading, mungkin saat ini aku sudah membusuk di dalam tanah dilumuri dosa-dosaku.

Hanya satu tahun waktu yang diberikan Tuhan padaku untuk melihat sosok penyelamat hidupku itu. Setelah itu dia lulus, meninggalkanku yang masih haus memandang sosoknya di SMP ini. Selama waktu satu tahun itu aku memutuskan, dia lah alasanku hidup. Tapi setelah dia pergi, tidak ada alasan bagiku untuk meninggalkan dunia ini, sudah terlambat untuk menghentikan denyut nadi ini secara paksa. Yang aku tahu dari apa yang aku rasakan, dia masih hidup, jadi tidak ada alasan bagiku untuk mati.

*

 

Sudah satu tahun aku kehilangan sosok penyelamat hidupku. Besok aku akan menginjakkan kaki di SMA baru dan aku masih belum dengar kabar tentangnya. Minggu pagi itu, aku sedang berjalan sepulang sari pasar saat aku merasa aku mulai gila. Aku melihat sosoknya di depan rumah tetanggaku. Rumah itu sebelumnya kosong selama beberapa minggu. Di saat itu lah aku merasa aku mulai gila, aku sedang membayangkan sosoknya dan tiba-tiba saja aku melihatnya di depan rumah tetanggaku.

Aku berdiri di depan pagar rumah itu. Dia sedang berjalan dari halaman ke depan pintu rumahnya. Saat memegang kenop pintu, dia berbalik dan memandangku. Wajahku pastilah sangat tidak wajar sehingga dia berjalan menghampiriku dan membuka pagarnya.

“Ada perlu apa?” tanyanya dengan seulas senyum.

Aku merasakan ekpresi wajahku hanya bengong dan mengedipkan mata satu kali sebelum menjawab pertanyaannya, “Tidak ada,” lalu berbalik dan menuju rumahku yang terletak di sebelah rumahnya.

“Aku Windra,” katanya, kemudian aku berbalik menatapnya. “Tetangga baru di sini,” katanya lagi sambil mengulurkan tangannya.

“Aku tahu,” hanya itu yang kuucapkan saat menjabat tangannya, kemudian aku berbalik dan pergi, meninggalkan ekspresi heran di wajahnya.

Aku menutup pintu rumah dan berdiri di baliknya. Entah apa yang aku pikirkan, yang jelas senyum tersungging dari bibirku. Melihat tingkahku ini, Ibu mengambil tas belanjaan dari tanganku dengan wajah heran. Mungkin ia takut tingkahku selanjutnya adalah melompat-lompat kegirangan dan akhirnya memecahkan telur-telur yang baru aku beli di pasar.

“Kamu kenapa? Kok senyum-senyum sendiri? Ibu tidak pernah melihatmu senyum seceria itu,” tanya Ibu sambil berjalan ke dapur.

“Tidak ada. Aku hanya senang karena besok akan masuk SMA,” jawabku sambil masuk ke kamar dan menutup pintunya.

Menyadari apa yang baru saja kukatakan, aku jadi berpikir. Mungkinkah dia akan menjadi kakak kelasku lagi? Apa dia juga sekolah di SMA yang sama denganku? Mungkin saja, SMA-ku ‘kan dekat dengan rumah. Mungkin dia juga memilih sekolah yang dekat dengan rumah.

Sampai satu bulan aku tidak pernah menemukannya di SMA-ku. Apa dia tidak sekolah di sini? Aku mendapatkan jawaban atas pertanyaan itu saat melihatnya berangkat sekolah pagi itu. Dia mengenakan seragam khusus sekolah yang berbeda dengan seragam khusus sekolahku. Tapi aku tidak tahu seragam SMA mana yang dikenakannya.

Satu tahun, lagi-lagi hanya selama itu lah Tuhan memberikan waktu padaku. Selama satu tahun dia menjadi tetanggaku, tidak pernah ada interaksi antara aku dengan dia. Paling-paling hanya saling melempar senyum saat kebetulan aku melihatnya di depan rumah. Di daerah perumahan ini, masyarakatnya memang cenderung individualis dan tidak banyak berinteraksi dengan sesama warga.

Aku sedang berpikir dan hampir membuat keputusan bahwa dia memang diciptakan untukku. Mulai dari ketidaksengajaanku membaca mading sekolah dan membaca tulisannya (sebelumnya aku tidak pernah tertarik dengan mading sekolah, bahkan untuk sekadar melihatnya), hingga sekarang dia menjadi tetanggaku selama hampir satu tahun. Saat keputusan itu hampir terucap di hatiku, Ibuku tiba-tiba berkata, “Bulan depan kita pindah.”

“Apa? Pindah?” tanyaku tak percaya.

“Iya, Ibu dipindahtugaskan ke luar pulau.”

“Aku tidak mau!”

“Ibu tidak memberimu pilihan.”

“Aku bisa kost di sini dan Ibu bekerja di sana.”

Ibu bilang, tidak ada pilihan!”

“Ibu egois!”

Kau selesaikan sekolahmu di sana. Setelah itu jika masih ada yang membuatmu ingin kembali ke sini, Ibu akan mengijinkanmu kuliah dan kost di sini.”

“Apa bedanya sekarang atau setelah aku lulus SMA?”

“Seharusnya kamu bersyukur sudah Ibu beri toleransi.”

Apa aku boleh marah pada Tuhan? Kenapa Dia tidak mengijinkanku hidup di dekat penyelamat hidupku? Aku menangis sejadi-jadinya sepanjang hari itu. Baru satu tahun aku menemukannya kembali, kenapa sekarang aku harus berpisah dengannya lagi? Dan memang, hanya satu tahun waktu yang Tuhan berikan. Setelah itu, aku meninggalkannya. Dan kali ini keputusanku adalah aku tidak akan mengingatnya lagi. Dia adalah alasan aku masih hidup sampai saat ini. Dan walaupun aku pergi, yang aku tahu dari apa yang aku rasakan, dia masih hidup, jadi tidak ada alasan bagiku untuk mati.

*

 

Akhirnya setelah dua tahun aku membuang jauh-jauh ingatan tentangnya, aku kembali ke kota ini. Aku kuliah di sini, bukan karena dia ada di kota ini. Tapi karena aku tidak mau mencabut kata-kataku pada Ibuku dua tahun lalu tentang keinginanku bertahan di kota ini. Keegoisan masa lalu yang membuatku kembali ke kota ini, sekalipun aku tidak memperdulikan tentang penyelamat hidupku itu lagi.

Ternyata dia kuliah di tempat yang sama denganku. Aku tidak tahu, memang sudah ditakdirkan dia tercipta untukku atau ini hukuman atas keegoisanku. Yang jelas kurasakan hatiku berontak untuk tidak melupakannya. Lalu perasaan itu muncul kembali, dia masih kuanggap sebagai penyelamat hidupku. Walaupun aku tidak mengenalnya kecuali saat dia memperkenalkan diri saat pertama kali pindah ke sebelah rumahku dulu, aku kembali merasa dia memang tercipta untukku. Kalau tidak, mengapa aku masih dipertemukan dengannya walau aku telah memutuskan untuk melupakannya?

Hari ini aku bertemu dengannya di kampus. Dan itu adalah hal terakhir yang kulihat sebelum aku jatuh pingsan. Saat bangun, aku telah berada di rumah sakit dan beberapa menit kemudian seorang dokter dan seorang perawat menghampiriku.

Tadi teman-temanmu yang membawamu kemari. Mereka bilang orang tuamu di luar kota?” kata dokter itu.

“Iya,” jawabku singkat.

Bisa saya menghubungi mereka?”

Ada apa? Apa aku sakit? Katakan saja padaku, jangan pada mereka.”

“Tapi orang tuamu berhak mengetahui keadaanmu.”

“Aku lebih berhak untuk itu.”

“Baiklah. Kami menemukan kelainan pada otakmu.”

“Apa aku gila?” pertanyaan bodoh itu meluncur begitu saja dari mulutku. Bisa saja kan, pemilik nama Windra Aska Putra itu telah membuatku gila.

“Bukan, tapi kelainan yang bisa membahayakan nyawamu.”

“Katakan saja langsung!”

Kelainan pada sistem otakmu ini akan menghentikan semua sistem kerja otak. Kamu tahu ‘kan otak mengatur seluruh organ tubuh? Jika itu terjadi, semua sistem tubuh akan berhenti dan…”

“Aku akan mati, jelas. Apa tidak bisa diperbaiki?”

Dokter itu hanya menggeleng.

Baiklah, apa lagi sekarang? Aku akan mati? Baiklah, semua orang pasti akan mati, tapi tidak di usiaku ini kan? Lagi-lagi aku berpikir Tuhan tidak mengijinkanku ada di dekat penyelamat hidupku. Dan lagi-lagi, ini adalah satu tahun setelah aku berada dalam satu kampus dengannya.

Kata dokter, aku bisa mati kapan saja. Dia minta aku untuk menjalani hidup dengan rileks agar aku bisa hidup lebih lama. Tapi aku tidak mau menunggu lagi, aku akan bicara pada penyelamat hidupku, mengatakan padanya bahwa selama lima tahun ini dia kuanggap sebagai penyelamat hidupku. Aku tidak ingin mati tanpa dia mengetahui hal itu. Sudah kuputuskan, akan aku katakan.

Kamu adalah penyelamat hidupku,” kataku begitu bertemu dengannya.

Sejenak dia memandangku kemudian menoleh kanan kiri memastikan bahwa aku bicara dengannya, “Kamu bicara denganku?”

“Iya. Aku hanya ingin mengatakan itu. Kamu kuanggap sebagai penyelamat hidupku selama lima tahun ini. Aku memutuskan untuk bunuh diri sebelum membaca tulisanmu di mading SMP. Tapi kemudian aku memutuskan untuk tetap hidup, dan itu karena tulisanmu di mading SMP.”

Ya, percakapan itulah yang kubayangkan saat aku berangkat ke kampus hari ini. Aku merancang kalimat semacam itu untuk mengatakan yang sejujurnya padanya. Aku berhenti sebentar di papan pengumuman untuk membaca info terbaru. Ada berita tentang demonstrasi yang dilakukan mahasiswa kampusku kemarin. Mataku tertuju pada sebuah pengumuman.

REST IN PEACE

WINDRA ASKA PUTRA

Ekonomi Bisnis 2006

Menghembuskan nafas terakhir di tengah advokasi membela kepentingan kampus. Pahlawan advokasi, menjadi sasaran tembakan aparat keamanan. Semoga arwahnya diterima di sisi-Nya dan diampuni segala dosanya.

Fotonya juga dicantumkan di papan pengumuman itu. Aku nyaris tertawa saat membaca pengumuman itu. Tapi kemudian kurasakan sakit kepala hebat selama beberapa detik. Kemudian aku jatuh, masih bergulat dengan rasa sakit itu. Sedetik kemudian aku tertawa seperti orang gila. Betapa bodohnya aku ditipu dengan segala kebetulan di antara aku dan penyelamat hidupku. Itulah yang membuatku tertawa, Tuhan benar-benar tidak mengijinkan aku bersamanya. Tak lama kemudian, sakit itu hilang, diikuti kebutaan pada mataku, kebisuan pada mulutku, ketulian pada telingaku, dan kemudian berhentinya kerja seluruh organ tubuhku.

Dan di sinilah jasadku sekarang , terkulai lemas di bawah nisan bertuliskan namaku. Arwahku masih tertawa seperti orang gila. Bagaimana bisa penyelamat hidupku juga sekaligus menjadi malaikat pencabut nyawaku? Sebuah alasan, adalah dia, alasanku hidup dan alasanku mati. Yang aku tahu dari apa yang aku rasakan, aku kembali berada di tempat yang sama dengannya. Kali ini aku yakin, Tuhan tidak akan memisahkanku dengannya lagi.

* * *

080208

Februari 4, 2008

CERPEN

Diarsipkan di bawah: karya — cikudit @ 11:35 pm

Tak Sempurna

Oleh : Dita K. Wardani

 

Wajah Siera sumringah begitu melihat Aria mengeluarkan sebuah kotak kecil berisi cincin emas bertahtakan sebuah permata kecil. Ini bukan cincin seharga ratusan juta rupiah, tapi seperti wanita pada umumnya, Siera merasa sangat bahagia. Dia tahu apa yang akan dikatakan Aria selanjutnya.

“Apa kamu bersedia menemaniku selama sisa hidupku dan menjadi ibu dari anak-anakku?” tanya Aria sambil menatap ke dalam mata Siera.

Siera begitu senang sehingga tak mampu berkata-kata. Matanya berkaca-kaca karena terharu. Dia hanya mampu menjawab pertanyaan itu dengan senyuman dan sebuah anggukan.

* * *

 

Kini cincin manis itu melingkar di jari manis Siera. Ia tak akan pernah melupakan malam itu, di mana makan malam ulang tahunnya berubah menjadi sebuah lamaran yang telah dinantinya bertahun-tahun. Sampai detik ini, sebelas jam setelah lamaran itu, Siera masih senyum-senyum sendiri.

Bagaimana tidak? Sosok Aria, sang pemberi cincin itu telah melekat betul di hati Siera. Aria adalah sosok kakak di masa kecilnya, kekasih di masa remajanya, dan kini adalah calon pendamping hidup di usianya yang baru menginjak 23 tahun. Siera dan Aria telah bersama sejak kecil, jadi lamaran itu bukanlah keputusan yang mendadak.

Siera sedang membereskan meja kamarnya saat senyum yang tak pernah lepas dari wajahnya sejak kejadian malam itu berubah menjadi ketakutan. Ketakutan terbesar yang pernah dialaminya sepanjang hidupnya. Siera memegang amplop hasil pemeriksaan sebuah rumah sakit dengan tangan gemetar. Ia jatuh terduduk dan air matanya membasahi amplop itu begitu saja. Kesedihan terbesar yang pernah dialaminya sepanjang hidupnya.

Siera nyaris melupakan hasil pemeriksaan itu, di mana ia divonis menderita kanker payudara. Penyakit itu akan membunuh Siera, perlahan, bukan fisik, tapi jiwanya. Dua minggu lagi, Siera baru ingat. Ya, dua minggu lagi operasi yang menentukan seluruh sisa hidupnya itu akan dilaksanakan. Bagi Siera, wanita yang harus kehilangan payudara karena kanker adalah takdir yang terburuk. Wanita seperti itu adalah wanita yang tak sempurna, yang tak bisa melanjutkan hidup sesuai impiannya. Itulah anggapan Siera, yang terus memberinya ketakutan dan kegelisahan mengingat hubungannya dengan Aria.

Inilah satu-satunya hal yang Siera rahasiakan dari Aria. Hubungannya dengan Aria menjanjikan masa depan yang sesuai dengan impiannya. Siera tidak ingin merusak semua itu dengan “calon” ketidaksempurnaannya sebagai wanita. Siera benar-benar mencintai Aria, ia ingin Aria mendapatkan segala yang terbaik darinya. Tapi jika harus menjadi wanita yang tak sempurna…akh, Siera tak berani membayangkan bagaimana kecewanya Aria menikahi wanita yang tak sempurna secara fisik.

Siera bersandar di kaki meja, air matanya masih mengalir, membasahi karpet di lantai. Hati Siera benar-benar terkoyak menerima kenyataan itu. Siera takut Aria merasa tidak puas pada dirinya karena ketidaksempurnaannya itu. Ia masih menangis, meratapi nasibnya, berdoa semoga vonis itu hanyalah mimpi buruk dan ia akan segera terbangun untuk menerima lamaran dari satu-satunya pria yang ia cintai.

* * *

Siera dibangunkan oleh deringan handphone-nya yang meraung-raung. Ia memungut handphone yang tergeletak di lantai di sebelahnya. Ia hampir menekan tombol “reply” untuk menjawab telepon yang masuk ke handphone-nya. Tapi saat ia menyadari pipinya masih basah oleh air mata dan melihat dari siapa panggilan itu, ia mengurungkan niatnya. Dibiarkannya handphone itu meneriakkan nada panggilan yang membuat siapapun risih dan ingin segera mengangkat telepon itu.

Itu adalah panggilan dari Aria. Siera takut akan mengecewakan Aria, meski ia tahu tidak menjawab panggilan Aria itu juga menimbulkan kekecewaan di hati Aria. Tapi ia lebih takut Aria mengetahui penyakit yang bersarang di tubuhnya. Ia belum cukup berani untuk mengatakan hal itu pada Aria, tapi ia juga tak ingin Aria terlambat mengetahui hal itu. Siera merasa bimbang, kegelisahan menyelimuti hatinya.

Satu jam kemudian, ketukan pintu mendorong Siera untuk beranjak dari kamarnya dan membukakan pintu. Siera nyaris menutup kembali pintu itu saat melihat Aria lah yang datang, tapi belum dilakukannya karena takut Aria akan merasa curiga. Siera berniat masih ingin merahasiakan hal itu sehingga ia tidak ingin Aria curiga.

“Ada apa?” tanya Aria sambil masuk dan duduk di kursi ruang tamu.

“Maksudmu?” Siera malah balik bertanya dan duduk di sebelah Aria.

Pipimu basah, matamu merah, kamu menangis?”

“Eh?” Siera mengelap pipinya. “Hanya tangisan bahagia mengingat kejadian tadi malam.”

Aria tersenyum sejenak mendengar pernyataan Siera itu. “Kenapa tadi teleponku tidak diangkat?”

“Apa? Oh, tadi aku sedang mandi.”

Aria menatap Siera dan menemukan ketidakjujuran di matanya.

Oh ya, sebenarnya tadi malam ada yang mau kukatakan padamu. Tapi aku tidak bisa mengatakannya karena terlalu senang atas hadiah darimu di hari ulang tahunku. Kemarin aku ditelepon oleh perusahan itu, katanya aku diterima!”

Selamat ya!” Aria mengecup kening Seira penuh kasih. Mata Siera kembali berkaca-kaca, bukan karena bahagia, tapi sedih. Ia sangat terharu akan cinta yang diberikan oleh Aria, tapi ia sangat sedih karena tidak akan bisa memberikan yang terbaik untuk Aria.

* * *

 

Hati Siera dirundung gelisah sepanjang minggu itu. Ia tak ceria seperti biasanya, Aria mencemaskan hal itu.

Kalau ada apa-apa, cerita saja. Atau kamu tidak senang dengan lamaranku?” tanya Aria di telepon siang itu. Aria selalu menyempatkan menelepon atau mengirim pesan singkat pada Siera setiap jam istirahat siang kantornya.

“Tidak, sama sekali tidak. Aku tidak apa-apa,” jawab Siera, tapi Aria tahu ada kegelisahan di hati Siera.

“Baiklah, tapi kalau ada yang mengganjal di hatimu, katakan saja padaku. Aku tidak ingin kamu merasakan kegelisahan sendirian. Nanti sepulang kerja aku akan kerumahmu, akan kubawakan martabak manis kesukaanmu.”

“Iya,” kemudian Siera menutup telepon.

Sepanjang hari itu Siera terus berpikir apakah dia akan mengatakan yang sejujurnya pada Aria atau tidak. Waktunya tinggal seminggu lagi, Siera akan masuk rumah sakit dan menjalani operasi.

* * *

“Kenapa? Itu martabak manis kesukaanmu, kenapa tidak dimakan?” tanya Aria setelah duduk beberapa menit di ruang tamu Siera tapi Siera bahkan tidak menyentuh makanan favoritnya itu.

“Sebenarnya ada yang harus kukatakan padamu,” kata Siera dengan suara bergetar, ia sudah memutuskan.

“Apa itu? Katakan saja.”

“Aku…aku mengidap kanker payudara,” Siera mengatakannya dengan cepat sehingga Aria terdiam beberapa detik untuk mengira-ngira apa yang dikatakannya.

Apa…apa kamu baru saja mengatakan kanker payudara?”

Siera hanya mengangguk.

“Separah apa?”

Aku akan kehilangannya dalam operasi minggu depan.”

“Minggu depan?” Aria berdiri dari duduknya. “Sejak kapan kamu mengetahui hal ini?!” ada nada kemarahan dalam pertanyaan itu.

Tiga bulan lalu.”

Apa?! Dan kamu sama sekali tidak mengatakan ini padaku?!”

“Aku…”

“Apa lagi yang kamu rahasiakan dariku?”

Siera tertunduk, dia hanya menggeleng lemah.

Aku tidak percaya kamu melakukan ini padaku! Kamu membohongiku selama berbulan-bulan!”

“Maafkan aku! Aku hanya…”

“Ini bukan masalah sepele, kamu tahu itu!”

“Tapi aku…”

“Aku benar-benar kecewa padamu!”

Melihat tatapan kemarahan Aria, Siera tak mampu berkata-kata lagi, bahkan untuk melakukan pembelaan atas dirinya sendiri. Aria tak pernah semarah ini sebelumnya. Aria sendiri merasa hancur, ia merasa dikhianati oleh satu-satunya wanita yang ia cintai dan percayai selama ini. Perasaan itu membawa Aria pergi dari rumah Siera, tanpa sepatah kata pun.

* * *

 

Siera benar-benar menyesali hal itu. Dia berpikir mungkin sebaiknya dia tidak pernah mengatakan hal itu pada Aria. Tapi mana mungkin? Aria pasti akan mengetahui hal itu, pasti. Tidak mungkin Aria tidak mengetahui operasi yang akan dijalani Siera, apalagi mungkin proses penyembuhannya akan berlangsung lama.

Siera terus berusaha minta maaf pada Aria, tapi Aria tidak pernah membalas pesan singkat yang dikirimnya dan mengangkat teleponnya. Siera sendiri merasa lebih hancur. Selain harus mengidap kanker payudara yang mengakibatkan dia akan kehilangannya, dia juga dihantui oleh rasa bersalah pada Aria. Siera menatap cincin lamaran dari Aria yang masih melingkar di jari manisnya. Ia bisa maklum jika akhirnya cincin itu harus lepas dari jari manisnya. Tapi itu akan membuat hatinya hancur lebih parah.

Tiga hari lagi operasi akan dilaksanakan. Besok Siera harus sudah berada di rumah sakit untuk menjalani pemeriksaan dan perawatan sebelum operasi. Bagaimana bisa Siera menjalani operasi itu sementara masih ada kegelisahan di hatinya? Bagaimana dengan Aria? Apa ia memutuskan hubungan dengan Siera begitu saja? Tanpa ada kata perpisahan? Siera benar-benar merasa gelisah dan putus asa. Dia tidak tahu lagi apa yang harus dilakukan.

* * *

“Sier!” teriak Aria dari depan pintu sambil terus mengetuk pintu rumah Siera. “Aku sudah memikirkannya. Aku sudah membuat keputusan.”

Masih tak ada jawaban sehingga Aria terpaksa bicara di depan pintu lagi. “Maafkan aku karena tak menghubungimu beberapa hari ini. Sier…kamu mendengarku? Sier…tolong jawab aku! Aku benar-benar minta maaf! Aku sangat mencintaimu! Aku akan menerimamu dan akan tetap bersamamu, apapun yang terjadi padamu. Sier…”

Hampir sepuluh menit Aria berdiri di depan pintu dan terus mengetuk. Akhirnya Aria memutuskan untuk menghubungi handphone Siera. Nada panggilan terdengar dari kamar Siera, tapi tak diangkat. Aria memberanikan diri mengintip melalui jendela kamar Siera yang kebetulan berada di sebelah ruang tamu. Aria bisa melihat Siera di dalam, di atas tempat tidurnya. Bukan, bukan tidur, posisinya berantakan. Aria langsung mendobrak pintu depan dan berlari ke kamar Siera.

Aria tidak percaya pada apa yang sedang dilihatnya. Beberapa tablet ―entah apa― berserakan di lantai. Siera terkulai lemas di tempat tidurnya. Aria terpaku, kakinya lemas tapi berusaha mendekati Siera. Beberapa kali dia mengguncang tubuh Siera untuk membangunkannya. Tapi terlambat, Siera telah kehilangan nyawanya. Aria benar-benar shock, tak satu kata pun terucap dari bibirnya, tak satu tetes air mata pun keluar dari matanya. Kemudian dia menemukan sehelai kertas di sebelah Siera, di atasnya diletakkan cincin pertunangan mereka.

 

Dear Aria,

Maafkan aku karena telah melakukan ini. Maafkan aku karena tidak jujur padamu sejak awal. Aku tahu ini kesalahan yang sangat besar dan aku bahkan tak mampu membayangkan kamu akan memberi maaf padaku.

Ini kenyataan yang sangat menyakitkan. Aku benar-benar tidak bisa menerima kenyataan kalau aku tidak akan sempurna sebagai seorang wanita. Ini adalah takdir terburuk yang pernah kuterima. Aku selalu berharap ini hanya sebuah mimpi dan aku akan segera terbangun. Tapi ini adalah kenyataan, kenyataan yang sangat pahit dan aku bahkan tak berani mengatakan hal ini padamu.

Saat kau marah padaku, semua terasa lebih buruk, duniaku terasa benar-benar telah hancur. Tidak ada harapan lagi untukku hidup di dunia. Jadi aku memutuskan untuk melakukan ini.

Aku tahu keputusanku ini akan membuatmu sangat kecewa. Tapi aku memang tidak bisa menerima takdir ini. Aku mengerti jika kamu tidak mau lagi menerimaku untuk menjadi pendamping hidupmu. Aku tahu aku akan menghancurkanmu dengan ketidaksempurnaanku. Aku tidak ingin kamu merasa kecewa dan tidak bahagia bersamaku. Tapi aku pun tak akan sanggup melihatmu bahagia bersama wanita lain. Jadi inilah keputusan yang aku pilih.

Ketahuilah, aku melakukan ini karena aku mencintaimu. Sungguh, aku sangat mencintaimu. Maafkan aku.

Love, Siera

 

“Sieraaaaa…!!!” hanya teriakan tak berguna yang keluar dari mulut Aria. Teriakan memanggil Siera, tapi Siera tidak akan pernah kembali, tak akan pernah.

* * * * *

Desember 16, 2007

PUISI

Diarsipkan di bawah: karya — cikudit @ 2:21 am

Raga Tanpa Jiwa

Oleh: Dita K. Wardani

 

Waktu berjalan sangat lambat

Malam tak juga lewat

Sepi… haru…

Saat kutatap sosok kakumu

Hanya raga tanpa jiwa

Ada tangis yang menyesak di hati

Saat ku sadari…

Takkan lagi kulihat senyummu

Takkan lagi kudengar tawamu

Inilah akhir perjalananmu

Hidup lelah dan sempurnamu

Jiwamu terenggut takdir

Tapi ini bukanlah akhir

Cintaku akan tetap untukmu

Ayahku…

CERPEN

Diarsipkan di bawah: karya — cikudit @ 2:04 am

Kubu Rahasia

Oleh: Dita K. Wardani

 

Di sini…

Dinding kubu rahasiaku, dipenuhi lukisan wajahmu

Di sini…

Udara kubu rahasiaku, dipenuhi celoteh tentangmu

Di sini…

Langit-langit kubu rahasiaku, dipenuhi impian bersamamu

Di sini…

Di kubu rahasiaku, tersimpan semua tentangmu

Ini adalah kubu rahasiaku. Setiap jengkalnya dibangun oleh rasa kagumku padanya. Dari sinilah aku bisa melihatnya datang dan pergi. Karena dialah, aku ada di sini. Sebelumnya aku tak pernah merasa nyaman di tempat semacam ini. Tapi dia merubah semua itu, dia membuat tempat ini menjadi tempat ternyamanku.

Aku adalah seorang pelajar tahun pertama di SMA berkelas ini. Sejak pertama aku menginjakkan kaki di tempat ini, aku sudah menemukannya. Aku tahu, dia yang aku cari. Dialah yang membuat aku, seorang laki-laki pembuat onar, berani mengambil langkah dengan bersekolah di SMA berkelas ini. Dia adalah inspirasiku.

Bagaimana harimu?” tanyanya, tersenyum dan menatap ramah ke dalam mataku.

Biasa saja,” jawabku singkat.

Ini adalah masa yang sulit bagi remaja seusiamu. Aku tidak akan menentukan jalanmu, kaulah yang tentukan sendiri. Tapi aku harap, jalan yang kau pilih adalah jalan yang terbaik.”

Aku mengerti.”

Aku selalu menunggu percakapan semacam itu sepulang sekolah, di lapangan parkir sekolah. Aku suka saat-saat seperti itu, saat dia tersenyum dan menatap ke dalam mataku. Saat itulah aku yakin telah menemukan apa yang aku cari, dan memang dialah yang aku cari. Seperti aku mengenalinya di antara puluhan guru, seperti itulah dia mengenaliku di antara ratusan murid. Dia adalah guruku, tapi bagiku dia bukan hanya sekadar guru, dia…

Sebagai pembuat onar, aku tidak heran atas apa yang terjadi padaku hari itu. Aku tidak ingat apa yang ada di otakku saat itu. Yang aku tahu, aku dipukuli oleh beberapa orang, lebih tepatnya kakak-kakak kelasku. Lalu dia datang, di antara lebamnya tubuhku dan darah yang mengalir dari pelipis mataku. Dia bukanlah perwira yang berkawan senapan, tapi dia adalah pahlawanku.

Aku tidak akan mengatakan bahwa aku kecewa padamu, kau sendiri yang harus menilai itu. Aku tahu kau telah dewasa, tidak lagi membutuhkan ceramah. Apapun jalan yang kau pilih, aku harap itu bisa membuatku bangga padamu,” seulas senyum hangat diberikannya padaku saat kami berjalan keluar dari rumah sakit.

Bagiku dia bukan hanya sekadar guru, dia adalah ayahku yang hilang. Tidak… lebih tepatnya, akulah yang menghilang. Ibuku membawaku pergi darinya. Saat itu aku masih terlalu kecil, terlalu rapuh untuk memilih jalanku. Bertahun aku mencarinya, sosok ayah yang dijauhkan dariku. Dan kini aku menemukannya, tapi tak berani meraihnya.

Apa dia tahu bahwa dia adalah inspirasiku? Apa dia tahu bahwa dia adalah pahlawanku? Aku sangat ingin memberitahu semua ini padanya, tapi aku takut pada reaksi yang akan diberikannya padaku. Bagaimana jika dia tidak mau menerimaku? Bagaimana jika dia malah membenciku? Jika memikirkan semua resiko itu, aku merasa cukup puas dengan keadaan sekarang, dengan hanya menyapa di lapangan parkir atau sekadar menatapnya dari kubu rahasiaku.

Aku dengar banyak hal tentang dia, aku tahu banyak tentang dia. Semua yang kudengar dan kutahu tentang dia hanya membuatku semakin mengaguminya, semakin memujanya. Mungkin aku bisa dianggap berlebihan tentang dia. Tapi apapun itu, dia tetap ayahku, dan aku bangga padanya.

Dan inilah peraduanku, kubu rahasiaku. Kubu rahasiaku ini hanyalah sebuah sudut kecil di SMA berkelas ini. Sekolah tak pernah jadi tempat yang kusukai, tapi sudut ini adalah tempat ternyamanku. Inilah tempat di mana aku bisa menatap sosok ayah yang bertahun lalu hilang dari kehidupanku. Kalau saja kau tahu betapa berat hidup yang kulalui bersama ayah tiriku, kau akan tahu betapa aku merindukan sosok seorang ayah yang sebenarnya. Kalau saja kau pernah hidup bersama ayah tiriku, kau tidak akan pernah menyangka bahwa di dunia ini ada orang sebaik ayah kandungku.

Ini tahun keduaku di SMA, dan aku masih tetap setia pada kubu rahasiaku. Tak jarang aku membagi kubu rahasiaku dengan teman-temanku. Kubu ini seperti mendapat angin segar setiap teman-temanku duduk melingkar di sudut ini. Mereka selalu mengeluh tentang ayah mereka. Ayah yang tidak mau membelikan mobil sebagai hadiah ulang tahun, ayah yang tidak mengijinkan mereka pergi ke klub malam, dan ayah yang selalu mendoktrin apa yang harus mereka lakukan. Tapi mereka tak pernah tahu bahwa aku begitu bersyukur masih mempunyai ayah dan aku sangat bangga padanya, walau aku tidak bisa memanggilnya “ayah.”

Bagaimana harimu?” tanyanya, seperti biasa di lapangan parkir sekolah.

Biasa saja,” jawabku singkat, seperti biasa. “Aku telah membuat keputusan.”

Dia menatapku heran setelah mendengar kata-kataku selanjutnya.

Aku akan mengatakannya padamu, setelah aku lulus nanti. Apapun resikonya, aku hanya ingin kau tahu,” kataku sambil berlalu darinya.

Aku tidak yakin dia mendengar itu karena pantulan wajahnya di spion sepeda motorku masih menunjukkan tanda tanya. Dia tidak mengerti, tapi aku akan membuatnya mengerti di akhir masa SMA-ku.

Inilah saatnya, aku akan mengatakan semua ini padanya. Hari ini adalah hari terakhirku di SMA, aku telah lulus. Dan sebelum aku menginjakkan kaki keluar dari SMA ini, aku ingin dia tahu apa yang kutahu.

Aku melihatnya melangkah keluar dari sebuah kelas, aku mengikutinya, berusaha mengejarnya. Tepat saat aku hampir meraihnya, dia masuk ke ruang kepala sekolah. Aku menunggunya di luar.

Heh! Ngapain di sini? Ayo ikutan coret-coret seragam!” ajak seorang temanku.

Ee… nanti aku ke sana, aku ada urusan bentar,” tolakku.

Ntar keburu abis acara coret-coretnya. Ngapain sih kamu di sini?”

Bentar doank kok. Kamu ke sana duluan aja!”

Dia keluar dari ruang kepala sekolah dan aku berdiri membelakanginya. Dia pergi, dan aku tak tahu itu.

Ok deh. Jangan lama-lama lho! Abis itu kita konvoi.”

Aku mengintip ke dalam ruang kepala sekolah. Dia tidak ada di dalam, dia sudah pergi. Aku berlari mengelilingi sekolah untuk mencarinya. Saat melintasi gerbang sekolah, aku melihatnya menyebrang ke tempat fotokopi di depan sekolah. Aku lega telah menemukannya. Aku menunggunya di depan gerbang sekolah. Saat akan kembali ke sekolah, dia melihatku dan dia tahu aku menunggunya.

Dia berjalan menghampiriku, tapi tak pernah sampai. Nyawanya harus diserahkan pada jalan itu. Sebuah truk menabraknya, menjemput nyawanya begitu saja. Apa dia tahu bahwa aku menunggunya? Apa dia tahu bahwa aku ingin mengatakan rahasia terbesarku padanya? Aku hanya terdiam melihat sosok yang kukagumi itu terkulai lemas di tengah jalan. Apa aku tak diberi kesempatan untuk mengatakan ini padanya? Apa aku tak diijinkan memanggilnya “ayah”?

Aku masih terdiam. Semua memori tentangnya terputar balik di otakku seperti film tanpa suara. Aku ingat semuanya, saat kami bertemu di lapangan parkir sekolah, saat dia tersenyum dan menatap ke dalam mataku, dan saat aku memandangnya dari kubu rahasiaku.

Dia tidak mengerti dan tidak akan pernah mengerti bahwa dia adalah ayahku. Seandainya aku mengatakan hal itu padanya jauh sebelum ini… Seandainya aku punya keberanian untuk memanggilnya “ayah”… Akh, sudahlah. Penyesalan ini hanya akan menambah air mata yang menyesak di dadaku.

Apapun jalan yang kau pilih, aku harap itu bisa membuatku bangga padamu.

Kalimat yang pernah diucapkannya itu cukup membuatku merasa sebagai anaknya. Dia berharap padaku, dan aku tidak akan mengecewakannya. Dia ingin bangga padaku, dan aku akan mewujudkannya. Aku akan membuatmu bangga, Ayah. Mungkin saat ini aku menangis, tapi percayalah, suatu saat aku akan membuatmu tersenyum melihatku, seperti yang dulu selalu kau lakukan.

Dan di sinilah aku sekarang, sedang berjalan menuju senyummu. Aku akan jadi sepertimu. Kalau aku punya anak nanti, aku tidak akan membiarkan siapapun mengambilnya dariku agar dia bisa merasa memiliki ayah. Kalau aku punya anak nanti, aku akan membuatnya bangga padaku.

Dia memang sudah tak ada, tapi kubu rahasiaku masih ada. Walau bukan di sudut SMA, kubu rahasia ini masih untuknya. Setiap jengkal kubu rahasiaku ini masih berdiri dengan rasa kagumku padanya. Lukisan wajahnya masih memenuhi dinding kubu rahasiaku. Cerita tentangnya masih berhembus di udara kubu rahasiaku. Impian bersamanya masih tergantung di langit-langit kubu rahasiaku. Semua tentangnya masih tersimpan di kubu rahasiaku.

—–

Blog pada WordPress.com.