Cikudit’s Weblog

April 29, 2009

Sahabat Itu…

Diarsipkan di bawah: (my) life — cikudit @ 3:38 am

Sahabat bukanlah orang yang ikut jatuh di saat kau jatuh,
tapi orang yang dapat membantumu berdiri di saat kau jatuh.

Tadi sore aku baru menonton sebuah sinetron di sebuah stasiun televisi swasta. Yang pemeran utamanya adalah lima remaja yang membentuk diri mereka sebagai “geng pelangi” itu. Dulu juga pernah beberapa kali menontonnya tapi tidak utuh dan rutin. Kebetulan tadi bisa menonton, sembari mengisi waktu (mahasiswa kok ngisi waktu nonton sinetron?!) dan istirahat setelah dalam keadaaan sekarat (atau mungkin kritis) selama sekitar 1 minggu.
Awalnya sih otakku masih belum menangkap cerita episode ini tentang apa (sinetron ini tiap hari ganti tema cerita kan ya?), tapi begitu tahu bahwa ceritanya tentang persahabatan mereka yang diuji (LAGI?!), aku langsung mulai “ngomyang-ngomnyang” alias mengeluarkan mantra-mantra tidak jelas sendirian di depan televisi di antara suara rintik hujan yang akhirnya mengguyur Jogja juga.

Pasalnya kenapa? (duh, aku tidak mengingat semua nama tokohnya!) Si Helen (salah saru anggota “geng pelangi”, karakter digambarkan sebagai remaja putri berkacamata yang paling di jenius di SMA-nya. Oia, namanya sih Helen, aku aja yang menambahi “si” di depannya, biar terkesan lebih akrab gitu, hahaha…) bercita-cita mendapat beasiswa untuk sekolah di luar negeri. Nah, waktu itu ada seleksi beasiswa ke luar negeri dan di dalam negeri. Waktu Si Helen mengutarakan niatnya kepada teman-temannya di “geng pelangi” ini, banyak yang tidak setuju. Karena, kalau sampai Si Helen ke luar negeri, berarti “geng pelangi” bakal pecah. Dua anggota “geng pelangi” bahkan sempat merencanakan untuk menggagalkan cita-cita Si Helen…..

Ok, cukup ceritanya. Aku bukan mau review sinetron kok. Nah sampai pada bagian itu tadi, mualailah aku “ngomyang-ngomnyang” sendirian.
“Ih, masa’ sahabat kayak gitu?”
“Bo’ong tu kalo lu ngomong sahabat, bukannya ngedukung malah…”
“Ah, capek gue denger lu ngomong ‘sahabat’-‘sahabat’ tapi lu sendiri kagak ngarti artinya!”

Yah, itulah beberapa hasil “omnyang”-anku tadi. Ya jelas lah, SEMUA orang juga tahu kalau yang namanya sahabat itu harus saling mendukung, bahkan rela berkorban demi mendukung sahabatnya, termasuk ditinggalin (SEMENTARA) waktu sahabatnya nuntut ilmu ke luar planet eh negeri.

Tapi masih ada nggak sih sahabat yang semulia itu jaman sekarang?? Yang benar-benar sayang tanpa pamrih, benar-benar ada tanpa minta pengakuan, benar-benar datang tanpa dipanggil, pulang tak di antar, hiii… Ada nggak??? Menurutku sih susah ya, soalnya kata dosenku waktu semester satu, setiap orang punya jiwa politik dalam dirinya, jadi pasti ada “permainan” dari sebagian tindakan atau ucapannya. Kalaupun bukan politik untuk meraih sesuatu, bisa saja itu hanya kengininan untuk terlihat baik di depan orang lain.

Ini bukan berarti aku meng-underestimate orang atau bagaimana, tapi cuma mengungkapkan ideku saja. Aku juga percaya di luar sana masih banyak “sahabat yang seseungguhnya”, hanya saja mungkin tidak setiap waktu dia bisa menjadi “sahabat yang sesungguhnya” itu, karena ingat, dia juga punya kepentingan dan kehidupan sendiri. [27/04]

Blog pada WordPress.com.