This is a story about a girl named “Lucky”… Early morning she wakes up with knock-knock-knock on the door… Hahaha…ga lah! Itu mah video klipnya Britney jaman muda dulu! Ok, I’m serious now…
Ini cerita tentang seorang gadis. Gadis ini hanya anak perempuan biasa, tanpa keistimewaan seperti indera keenam atau kecerdasan super. Biasa, ya, hanya gadis biasa. Umurnya sekitar seperlima abad saat kisah ini ditulis. Mungkin hidupnya masih panjang atau yah…siapa yang tahu? Yang jelas, untuk manusia seusianya, dia masih harus banyak belajar.
Setengah hidupnya hingga detik ini dia habiskan dengan berpikir bahwa dia adalah orang yang baik, yang jika mati detik ini juga akan langsung masuk surga, atau yah…mungkin hanya “mampir” sebentar ke neraka. Ya, memang aneh. Tidak seperti orang lain yang jika merenungkan kehidupannya di masa lalu maka akan menemukan ribuan bahkan jutaan kesalahan, besar maupun kecil. Dia berbeda, setiap merenungkan perjalanan hidupnya, maka akan semakin yakin pula dia bahwa dia memang baik dan hampir selalu benar. Apa itu adalah bentuk kesombongan? Entahlah. Dia tidak pernah memikirkannya. Yang dia tau, dia adalah orang yang baik, bahkan terlalu baik di dunia yang katanya kejam ini.
Ada satu prinsip yang entah sejak kapan tertanam di dalam dirinya. Sebenarnya hanya prinsip umum yang belum tentu bisa dijalani oleh semua orang. Prinsip itu sering disebut tepo seliro oleh orang Jawa. Sementara dia sendiri meyakini prinsip itu sebagai hukum timbal balik, apa yang kau lakukan pada orang lain maka akan dilakukan orang lain kepadamu. Jadi dia selalu melakukan hal yang baik (menurutnya) dengan harapan orang lain pun akan berlaku baik padanya. Dia tidak mau melakukan hal buruk pada orang lain dengan harapan tidak ada orang lain yang berlaku buruk padanya. Ya, prinsip itulah yang diterapkannya. Dan dia rasa, dia telah melakukan hal yang baik. Karena itulah dia menanggap bahwa dirinya adalah orang yang baik.
Seiring kedewasaan dan bertambah luasnya dunia yang dia lihat, dia menemukan hal baru dari prinsip yang selalu dianutnya. Hidup tidak semudah itu ‘kan? Meski sering ditemukannya kekecewaan karena perilaku buruk orang lain terhadapnya, dia tetap berkeyakinan bahwa bersikap baik adalah suatu keHARUSan. Dan meski tanpa sengaja dia memperlakukan orang lain dengan buruk, dia pasti akan menyesalinya kemudian.
Sampai akhirnya ada titik kejenuhan di mana dia merasa menikmati saat-saat memperlakukan orang lain dengan buruk. Dia tidak mengerti mengapa. Mungkin itulah titik jenuh dari keharusan menjaga perilaku baiknya. Mungkin tanpa disadarinya jiwa manusia yang tak sempurna dalam dirinya telah memberontak. Entahlah. Dia tidak tahu.
Puncaknya, dia menemukan sebuah perasaan di mana kekejaman memberikan kepuasan di dalam dirinya. Mungkin kata “kejam” terlalu dramatis, tapi kata itulah yang menurutnya patut mengkategorikan perilaku buruknya terhadap orang lain. Di mana dia merasa puas saat orang lain merasa bersalah padanya. Di mana dia merasa puas melihat orang lain “tersiksa” karena perilakunya. Dan berbagai hal lain yang membuatnya merasa puas dengan “penderitaan” orang lain. Yah, itulah arti “kekejaman” dalam kamusnya.
Dengan berbekal prinsip tadi, dia mengerti bahwa “kekejaman” di dalam dirinya adalah suatu kesalahan, kesalahan besar. Namun dia tidak tau apa yang harus dilakukannya, hal itu muncul begitu saja. Dia tau jiwa-harus-berbuat-baik-nya telah lelah. Tapi dia tetap memegang prinsip itu, dan bagaimanapun juga, dia HARUS tetap berbuat baik.
Kini jiwanya berada di antara dua hal, antara “keharusan” dan “kelelahan”. Dia tau dia harus memilih “keharusan”, tapi mungkin “kelelahan” jiwanya telah membuatnya berlaku menentang “keharusan”. Dia yakin “keharusan” itu ada di dalam dirinya, dia harus berbuat baik, sampai kapanpun. Dia sangat yakin, karena di balik kepuasan atas perilaku “kejam”nya, dia masih memiliki rasa bersalah, rasa kasihan.
Ya, itulah masalah barunya. Kelelahannya untuk menjadi manusia baik ternyata masih menyisakan rasa bersalah, dan belas kasihan. Itulah yang membuatnya merasa berada di antara dua dunia kepribadiannya, baik atau buruk. Setiap orang mungkin pernah merasakan apa yang kini dirasakannya, berada antara dunia baik dan dunia buruk. Tapi masalah baru yang ditemuinya adalah kebesaran egonya. Keegoisannya mungkin adalah sumber dari semua yang dirasakannya sekarang. Keegoisan untuk menjadi manusia yang baik. Keegoisan untuk memenangkan kelelahan jiwanya dan menjadikannya alasan untuk berbuat “kejam”.
Rasa bersalah dan belas kasihan yang masih tersisa dari keegoisannya itu berakhir tanpa kata “maaf” atau hanya sekadar perilaku yang menunjukkan penyesalan. Dia tau dia salah, dia tau dia harus meminta maaf, tapi keegoisan dan perasaan memiliki harga diri yang tinggi membuat apa yang seharusnya dilakukan tidak dia lakukan. Betapa sulit baginya untuk mengucap “maaf” meski dia tau dia harus mengucapkannya dengan sepenuh hati.
Dia, orang yang meyakini keHARUSan untuk selalu berbuat baik, namun juga menyadari bahwa dirinya tidak bisa menjadi sempurna. Hingga jiwanya lelah dan memberontak, melakukan kesalahan yang disebutnya sebagai “kekejaman”. Meski dia tau itu salah, namun keegoisan dan harga dirinya menolak untuk mengaku salah. Lalu bagaimana? Dia tidak tau harus menjadi apa, siapa, dan bagaimana. Dia terjebak dalam dunia yang dibuatnya sendiri. Apa yang harus dilakukannya?
Buat yang mau ngasih komentar atau saran atau kritik atau apa aja buat tulisan ini, pelase just leave a comment. Boleh tentang penulisnya alias saya, atau tentang isi tulisannya. Mau ngasih saran buat si “dia” juga boleh. Ditunggu ya, Thx…