Pernah kuceritakan sebelumnya, tentang “dia yang lain”, yang menjadi bahagiaku belakangan ini.
Belakangan ini semua tentangnya bisa mengacaukan perasaanku. Kadang sedih sampai membencinya, kadang senang seakan tak pernah membencinya. Kenapa? Aku pikir “dia yang lain” temanku, dan memang begitu adanya. Aku pikir hanya begitu, meski tak kupungkiri kadang berharap lebih. Aku pikir masih ada hal itu, tentang seseorang yang lain yang akan membatasi hubunganku dengannya hanya sebatas itu. Tapi tak apa, “dia yang lain” pun kadang membuatku merasa special, dan cemburu sekaligus. Kenapa harus cemburu? Teman kan? Tak menemukan jawabannya, hanya saja aku rasa cemburu itu wajar.
Akhirnya semua menyenangkan. Ya, seharusnya menyenangkan. Karena apa yang kuharapkan terjadi, lengkap. “dia yang lain” semakin dekat denganku. Anehnya, hal itu malah sering membuatku jengah. Kenapa? Karena “dia yang lain” tak seperti yang kubayangkan. Dia cenderung menyebalkan, mungkin…meski kuakui aku cukup nyaman bersamanya.
Sampai pada puncak itu, hari di mana semua terasa sempurna sekaligus luluh lantak. Mengerikan, kata itulah yang kupikirkan saat teringat pengalaman terakhir dengannya. Aku ingin melupakannya. Aku putuskan untuk meninggalkannya, demi kebaikanku sendiri dan aku yakin dia akan baik-baik saja.
Akhirnya semua berakhir, bukan dengan indah, tapi banyak menyimpan kenangan indah. Biarlah, karena aku pun jengah. Satu yang kuingat, lirik lagu yang kudengar saat bersamanya…
Oh mungkin aku bermimpi menginginkan dirimu untuk ada di sini menemaniku
Oh mungkinkah kau yang jadi kekasih sejatiku?
Semoga tak sekedar harapku…
Air mataku hampir menetes mendengar lirik itu. Dan saat itu, yang ada di pikiranku adalah “dia” yang dulu pernah menjadi bahagiaku, bukan “dia yang lain” yang saat itu adalah bahagiaku. Kenapa? Kenapa “dia”?