Cikudit’s Weblog

April 20, 2008

tentang “dia yang lain”

Diarsipkan di bawah: (my) life — cikudit @ 7:23 am

 

Pernah kuceritakan sebelumnya, tentang “dia yang lain”, yang menjadi bahagiaku belakangan ini.

Belakangan ini semua tentangnya bisa mengacaukan perasaanku. Kadang sedih sampai membencinya, kadang senang seakan tak pernah membencinya. Kenapa? Aku pikir “dia yang lain” temanku, dan memang begitu adanya. Aku pikir hanya begitu, meski tak kupungkiri kadang berharap lebih. Aku pikir masih ada hal itu, tentang seseorang yang lain yang akan membatasi hubunganku dengannya hanya sebatas itu. Tapi tak apa, “dia yang lain” pun kadang membuatku merasa special, dan cemburu sekaligus. Kenapa harus cemburu? Teman kan? Tak menemukan jawabannya, hanya saja aku rasa cemburu itu wajar.

Akhirnya semua menyenangkan. Ya, seharusnya menyenangkan. Karena apa yang kuharapkan terjadi, lengkap. “dia yang lain” semakin dekat denganku. Anehnya, hal itu malah sering membuatku jengah. Kenapa? Karena “dia yang lain” tak seperti yang kubayangkan. Dia cenderung menyebalkan, mungkin…meski kuakui aku cukup nyaman bersamanya.

Sampai pada puncak itu, hari di mana semua terasa sempurna sekaligus luluh lantak. Mengerikan, kata itulah yang kupikirkan saat teringat pengalaman terakhir dengannya. Aku ingin melupakannya. Aku putuskan untuk meninggalkannya, demi kebaikanku sendiri dan aku yakin dia akan baik-baik saja.

Akhirnya semua berakhir, bukan dengan indah, tapi banyak menyimpan kenangan indah. Biarlah, karena aku pun jengah. Satu yang kuingat, lirik lagu yang kudengar saat bersamanya…

Oh mungkin aku bermimpi menginginkan dirimu untuk ada di sini menemaniku

Oh mungkinkah kau yang jadi kekasih sejatiku?

Semoga tak sekedar harapku…

Air mataku hampir menetes mendengar lirik itu. Dan saat itu, yang ada di pikiranku adalah “dia” yang dulu pernah menjadi bahagiaku, bukan “dia yang lain” yang saat itu adalah bahagiaku. Kenapa? Kenapa “dia”?

April 5, 2008

jogJAKARTA = the next jakarta???

Diarsipkan di bawah: others — cikudit @ 4:55 am

 

Setahuku, Jakarta itu macet. Banyaaaaakk sekali kendaraan di ruas-ruas jalan, terutama ruas jalan utama dan pada jam-jam sibuk. Polusi di mana-mana. Perjalanan memakan waktu lebih lama daripada seharusnya karena kepadatan ruas jalan. Belum lagi bunyi klakson yang tidak nyaman didengar. Mungkin itu yang membuatku tidak berminat tinggal atau kerja di Jakarta, padahal aku ingin kerja di TransTV.

Nah sekarang, di kota di mana aku berada, tinggal dan kuliah, Jogjakarta, aku mulai merasakan ketidaknyamanan. Yah…akhir-akhir ini sepertinya Jogja semakin padat. Kendaraan seperti tumpah ruah ke jalan, tidak hanya pada jam-jam sibuk, tapi hampir seharian. Meskipun bunyi klakson tidak begitu meriah, tapi berkendara di jalan rasanya semakin membutuhkan kesabaran dan kehati-hatian. Jalan-jalan pintas yang terhitung bukan jalan utama semakin ramai. Bayangkan saja bagaimana jadinya jika jalan yang tidak begitu lebar dipenuhi dengan ratusan kendaraan. Belum lagi antrian di lampu lalu lintas. Antriannya semakin panjang dan selalu “dihiasi” bunyi klakson. Polusi…slayer harus selalu melindungi pernapasanku saat berkendara. Panas…katanya stop global warming, tapi rasanya kok malah memacu global warming? Belum lagi lubang-lubang yang “mewarnai” ruas-ruas jalan, membuat berkendara menjadi semakin tidak nyaman.

Sangat tidak nyaman, itulah yang kurasakan tentang Jogja-ku, Jogja kita. Tanya kenapa?

Blog pada WordPress.com.