Sebuah Alasan
Oleh : Dita K. Wardani
Aku kembali menapaki kenangan, tentang alasan kenapa aku hidup dan kenapa aku mati. Perjalanan menapaki masa lalu ini aku mulai dari masa SMP-ku, di mana aku mengalami masa terburuk sepanjang hidupku.
“Kami sudah putuskan untuk berpisah,” kata Ayah malam itu.
Aku hanya terdiam, otakku seperti kosong seketika.
“Kami tahu kamu masih terlalu kecil untuk menerima ini, tapi kami sudah memutuskan,” Ibu menjelaskan.
Aku masih diam, tiba-tiba saja semua memori tentang keluarga kami terputar kembali di otakku.
“Kamu tidak apa-apa?” rupanya kebisuanku mendorong Ayah untuk memastikan bahwa aku mendengarkan mereka.
“Ibu benar-benar minta maaf soal ini. Ini pasti sama sekali bukan hal yang kamu inginkan,” Ibu pun kembali angkat suara.
Aku berdiri, melangkah meninggalkan mereka di ruang tamu dan masuk ke kamarku, masih dalam kebisuan. Keputusan itu seakan membekukan air mataku. Aku sama sekali tidak tahu apa yang harus kulakukan. Orang tuaku akan berpisah, aku tidak bisa membayangkan keluarga ini benar-benar pecah. Ini sama sekali bukan hal yang aku inginkan, bahkan dalam mimpi terburukku sekalipun.
Aku pernah berpikir untuk mati. Dengan begitu aku tidak perlu melihat kehancuran keluarga ini. Dan mungkin jika aku bunuh diri, orang tuaku akan tahu bahwa aku sangat tidak menginginkan perpisahan ini. Aku sedang memilih waktu dan cara yang tepat untuk melakukannya saat mataku terpaku pada mading sekolah.
Ada sebuah tulisan di mading itu, tentang kehidupan. Di sana tertulis bahwa kita tidaklah sendiri saat merasa takut atau gelisah, ribuan bahkan jutaan orang mungkin juga merasakan hal yang sama. Juga ditulis bahwa hidup adalah anugerah, yang meskipun diiringi dengan penderitaan, tapi wajib disyukuri. Kemudian mataku tertuju pada penulisnya, Windra Aska Putra, IX-3. Ada kesejukkan di hatiku saat membaca namanya, dan senyumku yang tak pernah muncul sejak orang tuaku menyatakan keputusannya untuk berpisah tiba-tiba saja hadir kembali.
Setelah beberapa hari bertanya pada teman-temanku, akhirnya aku menemukannya, pemilik nama Windra Aska Putra itu. Dia kakak kelasku. Tidak ada yang spesial dari penampilannya, tapi siapapun yang melihatnya pasti akan merasakan ada sesuatu di dalam dirinya. Entah pantas atau tidak, tapi sejak saat itu dia kuanggap sebagai penyelamat hidupku. Tanpa tulisan yang pernah dimuatnya di mading, mungkin saat ini aku sudah membusuk di dalam tanah dilumuri dosa-dosaku.
Hanya satu tahun waktu yang diberikan Tuhan padaku untuk melihat sosok penyelamat hidupku itu. Setelah itu dia lulus, meninggalkanku yang masih haus memandang sosoknya di SMP ini. Selama waktu satu tahun itu aku memutuskan, dia lah alasanku hidup. Tapi setelah dia pergi, tidak ada alasan bagiku untuk meninggalkan dunia ini, sudah terlambat untuk menghentikan denyut nadi ini secara paksa. Yang aku tahu dari apa yang aku rasakan, dia masih hidup, jadi tidak ada alasan bagiku untuk mati.
*
Sudah satu tahun aku kehilangan sosok penyelamat hidupku. Besok aku akan menginjakkan kaki di SMA baru dan aku masih belum dengar kabar tentangnya. Minggu pagi itu, aku sedang berjalan sepulang sari pasar saat aku merasa aku mulai gila. Aku melihat sosoknya di depan rumah tetanggaku. Rumah itu sebelumnya kosong selama beberapa minggu. Di saat itu lah aku merasa aku mulai gila, aku sedang membayangkan sosoknya dan tiba-tiba saja aku melihatnya di depan rumah tetanggaku.
Aku berdiri di depan pagar rumah itu. Dia sedang berjalan dari halaman ke depan pintu rumahnya. Saat memegang kenop pintu, dia berbalik dan memandangku. Wajahku pastilah sangat tidak wajar sehingga dia berjalan menghampiriku dan membuka pagarnya.
“Ada perlu apa?” tanyanya dengan seulas senyum.
Aku merasakan ekpresi wajahku hanya bengong dan mengedipkan mata satu kali sebelum menjawab pertanyaannya, “Tidak ada,” lalu berbalik dan menuju rumahku yang terletak di sebelah rumahnya.
“Aku Windra,” katanya, kemudian aku berbalik menatapnya. “Tetangga baru di sini,” katanya lagi sambil mengulurkan tangannya.
“Aku tahu,” hanya itu yang kuucapkan saat menjabat tangannya, kemudian aku berbalik dan pergi, meninggalkan ekspresi heran di wajahnya.
Aku menutup pintu rumah dan berdiri di baliknya. Entah apa yang aku pikirkan, yang jelas senyum tersungging dari bibirku. Melihat tingkahku ini, Ibu mengambil tas belanjaan dari tanganku dengan wajah heran. Mungkin ia takut tingkahku selanjutnya adalah melompat-lompat kegirangan dan akhirnya memecahkan telur-telur yang baru aku beli di pasar.
“Kamu kenapa? Kok senyum-senyum sendiri? Ibu tidak pernah melihatmu senyum seceria itu,” tanya Ibu sambil berjalan ke dapur.
“Tidak ada. Aku hanya senang karena besok akan masuk SMA,” jawabku sambil masuk ke kamar dan menutup pintunya.
Menyadari apa yang baru saja kukatakan, aku jadi berpikir. Mungkinkah dia akan menjadi kakak kelasku lagi? Apa dia juga sekolah di SMA yang sama denganku? Mungkin saja, SMA-ku ‘kan dekat dengan rumah. Mungkin dia juga memilih sekolah yang dekat dengan rumah.
Sampai satu bulan aku tidak pernah menemukannya di SMA-ku. Apa dia tidak sekolah di sini? Aku mendapatkan jawaban atas pertanyaan itu saat melihatnya berangkat sekolah pagi itu. Dia mengenakan seragam khusus sekolah yang berbeda dengan seragam khusus sekolahku. Tapi aku tidak tahu seragam SMA mana yang dikenakannya.
Satu tahun, lagi-lagi hanya selama itu lah Tuhan memberikan waktu padaku. Selama satu tahun dia menjadi tetanggaku, tidak pernah ada interaksi antara aku dengan dia. Paling-paling hanya saling melempar senyum saat kebetulan aku melihatnya di depan rumah. Di daerah perumahan ini, masyarakatnya memang cenderung individualis dan tidak banyak berinteraksi dengan sesama warga.
Aku sedang berpikir dan hampir membuat keputusan bahwa dia memang diciptakan untukku. Mulai dari ketidaksengajaanku membaca mading sekolah dan membaca tulisannya (sebelumnya aku tidak pernah tertarik dengan mading sekolah, bahkan untuk sekadar melihatnya), hingga sekarang dia menjadi tetanggaku selama hampir satu tahun. Saat keputusan itu hampir terucap di hatiku, Ibuku tiba-tiba berkata, “Bulan depan kita pindah.”
“Apa? Pindah?” tanyaku tak percaya.
“Iya, Ibu dipindahtugaskan ke luar pulau.”
“Aku tidak mau!”
“Ibu tidak memberimu pilihan.”
“Aku bisa kost di sini dan Ibu bekerja di sana.”
“Ibu bilang, tidak ada pilihan!”
“Ibu egois!”
“Kau selesaikan sekolahmu di sana. Setelah itu jika masih ada yang membuatmu ingin kembali ke sini, Ibu akan mengijinkanmu kuliah dan kost di sini.”
“Apa bedanya sekarang atau setelah aku lulus SMA?”
“Seharusnya kamu bersyukur sudah Ibu beri toleransi.”
Apa aku boleh marah pada Tuhan? Kenapa Dia tidak mengijinkanku hidup di dekat penyelamat hidupku? Aku menangis sejadi-jadinya sepanjang hari itu. Baru satu tahun aku menemukannya kembali, kenapa sekarang aku harus berpisah dengannya lagi? Dan memang, hanya satu tahun waktu yang Tuhan berikan. Setelah itu, aku meninggalkannya. Dan kali ini keputusanku adalah aku tidak akan mengingatnya lagi. Dia adalah alasan aku masih hidup sampai saat ini. Dan walaupun aku pergi, yang aku tahu dari apa yang aku rasakan, dia masih hidup, jadi tidak ada alasan bagiku untuk mati.
*
Akhirnya setelah dua tahun aku membuang jauh-jauh ingatan tentangnya, aku kembali ke kota ini. Aku kuliah di sini, bukan karena dia ada di kota ini. Tapi karena aku tidak mau mencabut kata-kataku pada Ibuku dua tahun lalu tentang keinginanku bertahan di kota ini. Keegoisan masa lalu yang membuatku kembali ke kota ini, sekalipun aku tidak memperdulikan tentang penyelamat hidupku itu lagi.
Ternyata dia kuliah di tempat yang sama denganku. Aku tidak tahu, memang sudah ditakdirkan dia tercipta untukku atau ini hukuman atas keegoisanku. Yang jelas kurasakan hatiku berontak untuk tidak melupakannya. Lalu perasaan itu muncul kembali, dia masih kuanggap sebagai penyelamat hidupku. Walaupun aku tidak mengenalnya kecuali saat dia memperkenalkan diri saat pertama kali pindah ke sebelah rumahku dulu, aku kembali merasa dia memang tercipta untukku. Kalau tidak, mengapa aku masih dipertemukan dengannya walau aku telah memutuskan untuk melupakannya?
Hari ini aku bertemu dengannya di kampus. Dan itu adalah hal terakhir yang kulihat sebelum aku jatuh pingsan. Saat bangun, aku telah berada di rumah sakit dan beberapa menit kemudian seorang dokter dan seorang perawat menghampiriku.
“Tadi teman-temanmu yang membawamu kemari. Mereka bilang orang tuamu di luar kota?” kata dokter itu.
“Iya,” jawabku singkat.
“Bisa saya menghubungi mereka?”
“Ada apa? Apa aku sakit? Katakan saja padaku, jangan pada mereka.”
“Tapi orang tuamu berhak mengetahui keadaanmu.”
“Aku lebih berhak untuk itu.”
“Baiklah. Kami menemukan kelainan pada otakmu.”
“Apa aku gila?” pertanyaan bodoh itu meluncur begitu saja dari mulutku. Bisa saja kan, pemilik nama Windra Aska Putra itu telah membuatku gila.
“Bukan, tapi kelainan yang bisa membahayakan nyawamu.”
“Katakan saja langsung!”
“Kelainan pada sistem otakmu ini akan menghentikan semua sistem kerja otak. Kamu tahu ‘kan otak mengatur seluruh organ tubuh? Jika itu terjadi, semua sistem tubuh akan berhenti dan…”
“Aku akan mati, jelas. Apa tidak bisa diperbaiki?”
Dokter itu hanya menggeleng.
Baiklah, apa lagi sekarang? Aku akan mati? Baiklah, semua orang pasti akan mati, tapi tidak di usiaku ini kan? Lagi-lagi aku berpikir Tuhan tidak mengijinkanku ada di dekat penyelamat hidupku. Dan lagi-lagi, ini adalah satu tahun setelah aku berada dalam satu kampus dengannya.
Kata dokter, aku bisa mati kapan saja. Dia minta aku untuk menjalani hidup dengan rileks agar aku bisa hidup lebih lama. Tapi aku tidak mau menunggu lagi, aku akan bicara pada penyelamat hidupku, mengatakan padanya bahwa selama lima tahun ini dia kuanggap sebagai penyelamat hidupku. Aku tidak ingin mati tanpa dia mengetahui hal itu. Sudah kuputuskan, akan aku katakan.
“Kamu adalah penyelamat hidupku,” kataku begitu bertemu dengannya.
Sejenak dia memandangku kemudian menoleh kanan kiri memastikan bahwa aku bicara dengannya, “Kamu bicara denganku?”
“Iya. Aku hanya ingin mengatakan itu. Kamu kuanggap sebagai penyelamat hidupku selama lima tahun ini. Aku memutuskan untuk bunuh diri sebelum membaca tulisanmu di mading SMP. Tapi kemudian aku memutuskan untuk tetap hidup, dan itu karena tulisanmu di mading SMP.”
Ya, percakapan itulah yang kubayangkan saat aku berangkat ke kampus hari ini. Aku merancang kalimat semacam itu untuk mengatakan yang sejujurnya padanya. Aku berhenti sebentar di papan pengumuman untuk membaca info terbaru. Ada berita tentang demonstrasi yang dilakukan mahasiswa kampusku kemarin. Mataku tertuju pada sebuah pengumuman.
REST IN PEACE
WINDRA ASKA PUTRA
Ekonomi Bisnis 2006
Menghembuskan nafas terakhir di tengah advokasi membela kepentingan kampus. Pahlawan advokasi, menjadi sasaran tembakan aparat keamanan. Semoga arwahnya diterima di sisi-Nya dan diampuni segala dosanya.
Fotonya juga dicantumkan di papan pengumuman itu. Aku nyaris tertawa saat membaca pengumuman itu. Tapi kemudian kurasakan sakit kepala hebat selama beberapa detik. Kemudian aku jatuh, masih bergulat dengan rasa sakit itu. Sedetik kemudian aku tertawa seperti orang gila. Betapa bodohnya aku ditipu dengan segala kebetulan di antara aku dan penyelamat hidupku. Itulah yang membuatku tertawa, Tuhan benar-benar tidak mengijinkan aku bersamanya. Tak lama kemudian, sakit itu hilang, diikuti kebutaan pada mataku, kebisuan pada mulutku, ketulian pada telingaku, dan kemudian berhentinya kerja seluruh organ tubuhku.
Dan di sinilah jasadku sekarang , terkulai lemas di bawah nisan bertuliskan namaku. Arwahku masih tertawa seperti orang gila. Bagaimana bisa penyelamat hidupku juga sekaligus menjadi malaikat pencabut nyawaku? Sebuah alasan, adalah dia, alasanku hidup dan alasanku mati. Yang aku tahu dari apa yang aku rasakan, aku kembali berada di tempat yang sama dengannya. Kali ini aku yakin, Tuhan tidak akan memisahkanku dengannya lagi.
* * *
080208